Gorontalo

Memperingati Kemerdekaan: Refleksi Ketua IPPNU Bone Bolango atas Sejarah Pergerakan Perempuan NU

326
×

Memperingati Kemerdekaan: Refleksi Ketua IPPNU Bone Bolango atas Sejarah Pergerakan Perempuan NU

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Bone Bolango, Tabenews.Com – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya dimaknai dengan upacara seremonial, melainkan juga harus menjadi refleksi mendalam tentang arti kemerdekaan itu sendiri. Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bone Bolango menegaskan bahwa “merdeka” bukan berarti bebas berkuasa semaunya, tetapi bagaimana generasi bangsa mampu membangun negeri dengan semangat persatuan dan ta’awun (gotong royong).

“Sekarang semangat kita bukan lagi merebut kemerdekaan dari penjajah, tapi mengisinya agar negara ini berkembang lebih maju. Itu tugas generasi muda,” tegasnya.

Advertising
banner 325x300
Advertising

NU dan Resolusi Jihad

Perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) dalam mengawal kemerdekaan Indonesia tak lepas dari sosok pendirinya, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Melalui Resolusi Jihad NU pada Oktober 1945, beliau dengan tegas menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dari sinilah lahir spirit Hubbul Wathan Minal Iman (cinta tanah air bagian dari iman) yang hingga kini menjadi napas perjuangan NU.

Namun perjuangan kemerdekaan bukan hanya milik para pahlawan di medan tempur. Di garis belakang, perempuan juga memiliki peran yang tidak kalah penting.

Perempuan dalam Perjuangan

Perempuan Indonesia sejak awal abad ke-20 telah menjadi motor pergerakan bangsa. Dari RA Kartini, Dewi Sartika, hingga berdirinya organisasi perempuan seperti Poetri Mardika, Aisyiyah, Pawijatan Wanito, hingga Poetri Boedi Sedjati, mereka membuka ruang pendidikan dan kesadaran nasional bagi kaum perempuan pribumi.

Kesadaran berorganisasi juga tumbuh di kalangan perempuan NU. Sejak Muktamar NU di Menes-Banten tahun 1938, suara perempuan mulai hadir dalam forum NU, meski saat itu baru diterima sebatas anggota. Baru pada tahun 1946, lahirlah organisasi sayap perempuan NU bernama Nahdlatoel Oelama Muslimat (NOM), yang kemudian melahirkan Muslimat NU, Fatayat NU, dan IPPNU.

Peran Strategis Muslimat, Fatayat, dan IPPNU

Sejarah mencatat peran besar Muslimat NU bahkan hingga era modern. Tahun 2011–2013, Muslimat NU menjadi pionir dalam program deradikalisasi bekerja sama dengan BNPT, membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di sejumlah provinsi. Perempuan NU tidak hanya berperan dalam keluarga dan pendidikan, tetapi juga aktif menjaga keutuhan bangsa.

Di kalangan pelajar, IPPNU hadir sebagai wadah kaderisasi, pendidikan, pengembangan diri, dan pembentukan karakter generasi muda perempuan NU. IPPNU menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai keagamaan dan kebangsaan yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah.

“Kalau TNI punya tugas menegakkan kedaulatan negara, maka ‘Tentara NU’ adalah mereka yang menyiapkan generasi unggul. Dan di dalamnya ada peran besar perempuan NU,” jelas Ketua IPPNU Bone Bolango.

Generasi Muda Mengisi Kemerdekaan

Hubungan NU dengan negara tidak bisa dipisahkan. Sebagai bagian dari sejarah, NU dan banom-banomnya terus menjadi penjaga keutuhan bangsa. Melalui IPPNU, generasi muda perempuan NU dituntut untuk menjadi penggerak kemajuan bangsa, tidak hanya di ruang pendidikan dan sosial, tetapi juga di tengah dinamika kebangsaan.

Refleksi kemerdekaan hari ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diisi dengan semangat perjuangan, kebersamaan, dan pengabdian. Seperti kata Ketua IPPNU Bone Bolango, “Kemerdekaan bukanlah akhir, melainkan jalan panjang untuk terus memajukan bangsa.”

Example 468x60
Example 120x600