Lampasio, TABEnews.com
Bendungan Salugan Tolitoli, Sulawesi Tengah rampung dibangun. Namun, 1700 an sawah di wilayah Janja belum bisa terairi.
Komisi B Muhammad Mubarack dari DPRD Tolitoli, saat kunjungan kerja pimpinan dan anggota DPRD Tolitoli ke bendungan Salugan Kecamatan Lampasio, menyatakan alhamdulillah pembangunan bendungan salugan yang di mulai pada tahun 2017, telah selesai di laksanakan pada bulan Desember 2022.
Meskipun, bendungan tidak atau belum bisa mengairi hingga hamparan sawah dan calon sawah di Desa Janja.
Bendungan ini dibangun oleh kementrian PUPR seyogyanya dengan kapasitas kurang lebih 3268 hektar areal persawahan dapat terairi.
Dalam pekerjaannya, areal atau lahan yang bergambut membuat perusahaan BUMN pun kewalahan.
Secara tehnis, luas bendung utama kurang lebih 160 hektar, dengan menyedot anggaran kurang lebih Rp 198 milyar.
Dalam perjalanan pembangunanya memiliki kendala teknis yakni daerah janja kompi yang seharunya di bangun saluran sekunder, tidak dapat terlaksana karena daerah Janja Kompi adalah daerah rawa.
Untuk itu membutuhkan anggaran yang cukup besar untuk menyelasaikan pembangunan saluranya, dampak dari kendala tersebut kurang lebih 1700 hektar sawa tidak dapat terairi.
Praktis untuk sementara sawa yang bisah vungsional mengunakan irigasi ini hanya kurang lebih 1500 hektar, oleh karna itu perlu adanya dorongan pemerintah daerah DPRD ke kementrian PUPR untuk menyelasaikan pembagunan saluran di daerah janja kompi pada tahun berikunya.
Sumber di perusahaan menyebut kalau perlu ada desain kembali mengingat gambut di daerah Janja sampai kedalam 20 meter belum menemukan titik kerasnya.
Dengan harapan, berfungsi irigasi ini sawah yang tadinya tidak produktif atau yang produksinya hanya 1 atau 3 ton, bisa naik menjadi 4 atau 6 ton.
Artinya, berfungsinya irigasi Salugan atau DI Salugan, maka swasembah atau surplus beras Tolitoli semakin kokoh.
Kalau tahun baru bisa separuh yang bisa terairi, maka besar harapan masyarakat ke depan pemerintah pusat kembali mengalokasikan dana bagi kelanjutan irigasi tersebutl.
Selain itu, di daerah Basidondo–Silondou dan Marisa–juga membutuhkan pengairan irigasi tehnis. Bahkan daerah Ogodeide–sebagian sawahnya beririgasi non tehnis sehingga produksinya sangat terbatas@sy















