Buol TabeNews.com – Pemerintah Desa Lomuli, Kecamatan Tiloan, Kabupaten Buol, menerima kunjungan Tim Penilai Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2026, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Lomuli sejak pukul 09.00 hingga 11.20 WITA tersebut menjadi momentum penting untuk menampilkan berbagai capaian pembangunan, inovasi desa, serta partisipasi masyarakat dalam mendukung kemajuan desa.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Vuayo Lripu Koponuku, dan Mars PKK, dilanjutkan dengan pembacaan doa, laporan Kepala Desa Lomuli, sambutan Ketua Tim Penilai Provinsi Sulawesi Tengah, sambutan Bupati Buol, serta sesi penilaian dan verifikasi lapangan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten III Bidang Administrasi dan Umum Setda Kabupaten Buol Wahyu Setiabudi, SH., MH., Kepala Bidang Penataan Perkembangan Desa Dinas PMD sekaligus Ketua Tim Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah Emy, S.Sos., M.M., Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Tengah, Ketua TP-PKK Kabupaten Buol Ny. Shinta Andriani Ningsih, Kepala Dinas PMD Kabupaten Buol Arfandi Wehantow, S.IP., M.Si., Camat Tiloan Djufri Lamadang, SE., Kepala Desa Lomuli Ulfa, S.Sos., Inspektur Daerah Wahida, SE., unsur TNI-Polri, para kepala desa se-Kecamatan Tiloan, tokoh agama, tokoh perempuan, BPD, masyarakat serta insan pers.
Dalam laporannya, Kepala Desa Lomuli Ulfa, S.Sos. memaparkan berbagai capaian pembangunan desa selama beberapa tahun terakhir. Ia menjelaskan bahwa Desa Lomuli merupakan hasil pemekaran dari Desa Air Terang dan Desa Kokobuka yang resmi berdiri pada 13 Maret 2005. Saat ini Desa Lomuli memiliki luas wilayah sekitar 40,28 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 966 jiwa dan 260 kepala keluarga.
Sebagian besar masyarakat atau sekitar 80 persen berprofesi sebagai petani, pekebun dan peternak. Komoditas unggulan desa meliputi jagung, nilam, kelapa sawit dan berbagai jenis sayuran.
“Visi kami adalah menciptakan tata kelola pemerintahan yang amanah, jujur dan bertanggung jawab dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Karena itu kami terus mendorong reformasi pelayanan publik, penguatan BUMDes, pemberdayaan pemuda, pembangunan infrastruktur dan pengembangan inovasi desa,” ujar Ulfa.
Ia menjelaskan, Desa Lomuli saat ini memiliki berbagai sarana pendukung seperti kantor desa, balai desa, kantor BPD, PAUD/TK, SD, perpustakaan desa, pustu, poskesdes, posyandu, gedung PKK, rumah ibadah, gudang hasil pertanian, tribun dan lapangan desa.
Pada sektor ekonomi, BUMDes Lomuli berperan aktif membantu petani melalui penyediaan fasilitas penyulingan nilam dengan biaya yang terjangkau. Selain itu terdapat puluhan usaha mikro, kios sembako, penggilingan padi, penggilingan jagung, penggilingan nilam, sarang walet, serta agen layanan keuangan yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Berbagai inovasi desa juga terus dikembangkan, di antaranya program penghargaan bagi siswa berprestasi, mahasiswa berprestasi, kader kesehatan, perangkat desa dan kelembagaan desa berprestasi, bantuan rumah tidak layak huni, bantuan jamban keluarga, pengembangan rumah bibit, pemanfaatan bio urin sapi menjadi pupuk organik, pengolahan sampah plastik menjadi kerajinan tangan, hingga optimalisasi aset desa sebagai sumber Pendapatan Asli Desa (PADes).
Di hadapan tim penilai, Kepala Desa Lomuli juga menyampaikan bahwa berdasarkan hasil input data pada Sistem Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan (EPDESKEL) Kementerian Dalam Negeri, Desa Lomuli saat ini berada pada kategori Cepat Berkembang dengan nilai mencapai 513 poin.
Sementara itu, Ketua Tim Penilai Provinsi Sulawesi Tengah Emy, S.Sos., M.M. menjelaskan bahwa pelaksanaan evaluasi saat ini telah berbasis data dan aplikasi sehingga proses penilaian lebih objektif dan terukur.
“Tim provinsi hadir bukan untuk mencari kekurangan, tetapi untuk melakukan verifikasi, klarifikasi serta melihat langsung berbagai inovasi, capaian dan praktik-praktik baik yang telah dilakukan desa. Melalui kegiatan ini kita dapat mengidentifikasi keberhasilan sekaligus mencari solusi atas berbagai tantangan pembangunan yang dihadapi desa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa evaluasi perkembangan desa merupakan instrumen penting untuk mengukur keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Dra. Hasiati Ponulele, SKM., M.Kes. mewakili Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Tengah menyampaikan bahwa tema lomba tahun ini yakni “Transformasi Desa dan Kelurahan sebagai Pilar Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045” memiliki makna strategis dalam mendorong kemajuan desa sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan desa tidak terlepas dari peran aktif masyarakat dan kader PKK melalui implementasi 10 Program Pokok PKK, termasuk mendukung program pencegahan stunting, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), pengembangan UP2K, penguatan ketahanan pangan keluarga serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Keikutsertaan dalam lomba ini bukan hanya soal meraih prestasi, tetapi merupakan bentuk komitmen bersama untuk mewujudkan desa yang maju, mandiri, berdaya saing dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Buol yang diwakili oleh Asisten III Bidang Administrasi dan Umum Setda Kabupaten Buol Wahyu Setiabudi, SH., MH., dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada Tim Pembina dan Tim Penilai Evaluasi Perkembangan Desa Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Kabupaten Buol.
Wahyu menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Buol memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan evaluasi perkembangan desa dan kelurahan karena kegiatan tersebut mampu memotivasi pemerintah desa untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta menggali seluruh potensi daerah yang dimiliki.
“Melalui kegiatan ini diharapkan desa mampu menerapkan pembangunan berbasis kemandirian, inovasi lokal dan digitalisasi. Selain itu, partisipasi masyarakat juga harus terus didorong agar pembangunan dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Menurut Wahyu, lomba desa memiliki nilai strategis karena mampu menumbuhkan semangat keteladanan, transparansi, akuntabilitas dan daya saing desa dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun pembangunan.
Di akhir sambutannya, Wahyu berharap Desa Lomuli dapat memberikan hasil terbaik dan mengharumkan nama Kabupaten Buol pada ajang Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2026.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan verifikasi administrasi, peninjauan lapangan, serta penilaian berbagai indikator yang meliputi aspek pemerintahan, kewilayahan, dan kemasyarakatan sesuai ketentuan Permendagri Nomor 81 Tahun 2015 tentang Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan.
Dengan berbagai inovasi yang telah dikembangkan serta dukungan kuat dari pemerintah dan masyarakat, Desa Lomuli optimistis mampu menjadi salah satu desa terbaik di Sulawesi Tengah dan menjadi contoh keberhasilan pembangunan desa berbasis partisipasi masyarakat.
Redaksi










