بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ketika Kebencian Partai Menjelma Menjadi Serangan terhadap Syariat Ilahi
Di tengah kekhusyukan jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji, kembali muncul suara sumbang dari sisa-sisa kelompok Ikhwanul Muslimin. Dengan nada sinis dan retorika lama yang mereka daur ulang, mereka mencoba mengaburkan citra Tanah Suci dengan menebar fitnah, mencurigai keamanan, dan bahkan menyebarkan ketakutan bahwa musim haji tak lagi aman. Ini bukan sekadar kritik, tapi pukulan terhadap salah satu rukun Islam yang paling agung.
Apakah kebencian mereka terhadap pemerintah dan persatuan umat telah sampai pada titik di mana syariat Allah pun jadi sasaran?
Allah Ta’ala berfirman:
“Barangsiapa memasukinya (Baitullah), niscaya ia aman.” (QS. Ali Imran: 97)
Dan juga:
“Tidakkah Kami telah menjadikan (Mekah) tempat yang aman bagi mereka?” (QS. Al-Qashash: 57)
Namun, tetap saja, segelintir orang yang mengklaim sebagai pejuang Islam datang menyebar keraguan dan kecemasan, merusak kehormatan Tanah Haram dengan agenda-agenda politik busuk.
Antara Kepentingan Jamaah dan Agenda Organisasi
Perlu digarisbawahi: kelompok ini tidak menyoal haji karena cinta kepada umat atau peduli pada jamaah. Kepedulian mereka hanyalah kedok. Yang sebenarnya mereka risaukan adalah kegagalan proyek partai mereka. Mereka ingin menjadikan ibadah haji sebagai panggung politik, mengubahnya dari ladang ibadah menjadi mimbar agitasi.
Mereka terbiasa mempolitisasi segalanya: khutbah, masjid, bahkan jenazah. Maka tak heran jika keamanan haji pun mereka cibir. Ini bukan hal baru.
Fakta Tak Bisa Ditutupi oleh Fitnah
Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berhaji dalam ketenangan, di bawah pelayanan yang luar biasa, dan dengan sistem yang tertata. Pemerintah Arab Saudi sebagai penjaga dua tanah suci telah menjadikan ibadah ini aman, nyaman, dan penuh makna spiritual.
Lantas, di mana kekacauan yang mereka tuduhkan?
Di mana ketakutan yang mereka sebarkan?
Di mana “penangkapan massal” yang mereka gembar-gemborkan?
Semua itu hanyalah narasi lama yang mereka putar ulang—kosong dan tanpa bukti.
Narasi Lama: “Haji Revolusioner” ala Ikhwan
Tak sulit menelusuri asal muasal ide ini. Dulu, Khomeini memulainya, Houthi mewarisinya, dan kini Ikhwanul Muslimin mengulanginya: menjadikan haji sebagai alat perlawanan politik, bukan ibadah. Mereka ingin mengganti zikir dengan teriakan, mengubah Mina menjadi arena revolusi, bukan tempat bermalam dalam khusyuk.
Apakah kita lupa Juhayman dan fitnah di Masjidil Haram? Bukankah benih radikalisme itu tumbuh dari pohon yang sama—pencampuran antara agama dan ambisi kekuasaan?
Haji: Ibadah Tauhid, Bukan Slogan Partai
Haji adalah momen suci untuk meninggalkan identitas duniawi. Ia menyatukan manusia di bawah satu seruan: “Labbaik Allahumma Labbaik”, bukan “Labbaik Ya Hizb” atau “Labbaik Ya Mursyid”.
Inilah yang ditakuti oleh mereka: haji melarutkan semua sekat partai, menghancurkan slogan-slogan partisan, dan membuka kedok siapa saja yang menjadikan agama sebagai alat politik.
Penutup: Jangan Rusak Syariat dengan Ambisi Duniawi
Kepada siapa pun yang menginginkan perubahan: mulailah dari diri sendiri, dan gunakan cara yang benar sesuai syariat. Jangan memanfaatkan kesucian haji untuk mengguncang kepercayaan umat atau mencemari ketenangan Tanah Haram.
Mengusik keamanan haji bukanlah perjuangan politik—itu pengkhianatan.
Dan pengkhianatan terhadap syariat… tak akan pernah menuai berkah.
Ikhwanul Muslimin dan Haji:
Sebuah pertempuran antara ibadah dan ideologi, antara panggilan Ilahi dan ambisi duniawi, antara Labbaik Allahumma Labbaik dan Labbaik Ya Proyek Kehancuran.
Ditulis dengan cinta, salawat, dan salam kepada Nabi,
Dr. Salim bin Eid Al-Hilali
Murid Imam Al-Albani rahimahullah
10 Dzulhijjah 1446 H















