Oleh : dr. Ni Komang Mentary Putri Sudibia
Sulteng, Tabenews.com – Bell’s palsy adalah kondisi kelumpuhan pada salah satu sisi wajah yang muncul secara mendadak. Penderita biasanya mengalami wajah tampak melorot di satu sisi, sulit tersenyum, atau menutup mata. Meskipun mengkhawatirkan, kondisi ini umumnya tidak bersifat permanen dan bisa sembuh dalam hitungan minggu hingga bulan.
Apa Penyebab Bell’s Palsy?
Hingga kini, para ahli belum mengetahui penyebab pasti Bell’s palsy. Namun, diduga kelumpuhan ini terjadi akibat gangguan atau peradangan pada saraf wajah yang bisa disebabkan oleh infeksi virus. Beberapa virus yang dicurigai terkait dengan Bell’s palsy di antaranya:
- Herpes simpleks (penyebab herpes bibir),
- Herpes zoster (cacar api),
- Epstein-Barr (penyebab mononukleosis menular),
- Sitomegalovirus,
- Adenovirus (penyakit saluran napas),
- Virus rubella (campak Jerman),
- Virus gondong,
- Virus influenza B,
- Coxsackievirus.
Siapa Saja yang Berisiko?
Bell’s palsy bisa menyerang siapa saja, tetapi lebih sering dialami oleh individu dengan faktor risiko berikut:
- Usia 15–60 tahun,
- Paparan udara dingin atau radiasi,
- Riwayat kelumpuhan wajah dalam keluarga,
- Penderita diabetes atau tekanan darah tinggi,
- Wanita hamil, terutama trimester ketiga,
- Infeksi saluran pernapasan atas (seperti flu dan pilek),
- Kondisi autoimun seperti myasthenia gravis,
- Obesitas dan dislipidemia.
Kenali Gejalanya Sejak Dini
Gejala Bell’s palsy dapat bervariasi dan sering muncul secara tiba-tiba. Tanda paling umum adalah kelumpuhan pada salah satu sisi wajah yang menyebabkan:
- Wajah tampak asimetris atau melorot,
- Kesulitan tersenyum atau menutup mata,
- Nyeri di rahang atau belakang telinga,
- Sakit kepala,
- Penurunan kemampuan mengecap rasa,
- Mata kering atau berkedut,
- Mengiler,
- Telinga berdenging (tinnitus),
- Sensitif terhadap suara.
Apakah Bisa Dicegah?
Bell’s palsy memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, namun risikonya bisa ditekan dengan menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
- Mengontrol penyakit seperti diabetes dan hipertensi,
- Menghindari paparan udara dingin secara langsung,
- Menjaga berat badan tetap ideal.
Waspadai Komplikasi
Sebagian besar penderita pulih tanpa komplikasi, terutama jika mendapatkan pengobatan dalam 72 jam sejak gejala pertama muncul. Namun, dalam kasus berat, Bell’s palsy dapat menimbulkan komplikasi seperti:
- Kerusakan permanen pada saraf wajah,
- Gerakan otot wajah yang tidak terkendali,
- Luka pada kornea mata,
- Kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan mengecap rasa dan bicara.
Segera Periksa ke Dokter
Pengobatan Bell’s palsy lebih efektif jika dilakukan secepat mungkin. Jika Anda atau orang terdekat mengalami kelumpuhan wajah secara tiba-tiba, segera konsultasikan ke dokter. Deteksi dan penanganan dini bisa mempercepat pemulihan dan mencegah komplikasi.
Redaksi














