Desa Anggasan, Kecamatan Dondo, menjadi pusat perhatian pada Senin (17/11/2025) ketika Dinas Perindustrian Kabupaten Tolitoli membuka workshop kerajinan tangan berbahan dasar daun pandan pantai. Selama enam hari, para peserta dari berbagai kelompok masyarakat akan belajar mengolah bahan alam menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Kegiatan yang digelar di Aula Gedung Serbaguna Desa Anggasan ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Tolitoli. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga keterampilan tradisional sembari menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar modern. Menurutnya, anyaman pandan bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga peluang industri kreatif yang harus terus dirawat.
Kepala Desa Anggasan, Ruslan M. Hadi, menyampaikan apresiasi mendalam atas dipilihnya desanya sebagai lokasi pelatihan. Ia melihat ini sebagai kesempatan strategis untuk membuka jalan bagi masyarakat agar memiliki sumber pendapatan baru berbasis kearifan lokal. “Kami sangat berterima kasih. Ini bukan hanya pelatihan, tetapi pintu menuju pemberdayaan,” ujarnya.
Ruslan menekankan bahwa kemampuan menganyam pandan dapat menghasilkan berbagai produk yang diminati pasar, mulai dari tas, topi, tempat busara, hingga aneka suvenir. Ia berharap keterampilan yang diperoleh warga tidak hanya berhenti pada pelatihan ini, tetapi berkembang menjadi usaha berkelanjutan yang mampu memperkuat ekonomi kecil di tingkat desa.
Harapan terbesar pemerintah desa adalah agar generasi muda ikut terlibat. Baginya, keberlanjutan tradisi hanya mungkin terjadi jika anak-anak muda melihat kerajinan tangan bukan sebagai kegiatan sampingan, melainkan sebagai peluang usaha yang kreatif, modern, dan menjanjikan. “Masa depan kerajinan ini ada di tangan mereka,” katanya.
Kegiatan workshop ini juga menghadirkan suasana kebersamaan yang kuat. Para peserta—sebagian besar perempuan dan pelaku usaha kecil—tampak antusias mengikuti sesi demi sesi. Mereka diajari teknik dasar hingga pola anyaman yang lebih rumit oleh instruktur berpengalaman yang dibawa langsung oleh dinas.
Kehadiran pejabat daerah turut menunjukkan dukungan pemerintah terhadap industri kreatif desa. Selain Kepala Dinas Perindustrian, hadir pula sekretaris dinas bersama rombongan, Plt Camat Dondo, Ketua BPD Anggasan, aparat desa, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, serta warga Anggasan. Komposisi ini menegaskan bahwa pengembangan kerajinan tidak bisa berjalan tanpa kolaborasi lintas pihak.
Dalam konteks pembangunan daerah, workshop ini mencerminkan pergeseran pendekatan: dari program top-down menjadi upaya yang digerakkan oleh kebutuhan akar rumput. Pemerintah daerah ingin memastikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-benar menyentuh sektor yang mampu memberikan dampak nyata bagi ekonomi rumah tangga.
Selama enam hari ke depan, aula desa akan menjadi ruang kreatif di mana tradisi, harapan, dan keterampilan bertemu. Jika berhasil, program ini bukan hanya akan menghasilkan produk anyaman baru, tetapi juga membuka jalan bagi Anggasan untuk menjadi salah satu sentra kerajinan pandan pantai di Tolitoli—bahkan lebih luas lagi.









