Buol, TabeNews.com – Sejarah pemekaran Kabupaten Buol dari Kabupaten Tolitoli yang resmi ditetapkan pada 12 Oktober 1999 tidak lepas dari perjuangan panjang para tokoh daerah. Di balik proses tersebut, terdapat sejumlah nama yang berperan penting, namun belum banyak terekspos ke publik. Salah satunya adalah Amran Hi. Rasyid.
Melalui keterangan Suleman Latantu, salah satu admin Grup WhatsApp Kanal Aspirasi Warga Buol, terungkap bahwa Amran Hi. Rasyid merupakan sosok yang memiliki kontribusi besar dalam proses perjuangan pemekaran pada tahun 1998. Saat itu, ia menjabat sebagai Ketua KUD Sabar Bunobogu.
Menurut Suleman, berdasarkan cerita dari sejumlah saksi yang masih hidup hingga kini, Amran dikenal sebagai figur yang sangat dekat dengan Bupati pertama Buol, almarhum Abdul Karim Mbow.
Kedekatan tersebut tidak hanya bersifat personal, tetapi juga terwujud dalam dukungan nyata terhadap perjuangan pembentukan Kabupaten Buol.
“Pak Amran ini bahkan disebut sebagai salah satu harapan almarhum Abdul Karim Mbow dalam membiayai dan memfasilitasi perjalanan serta kebutuhan akomodasi rombongan ke Jakarta,” ungkap Suleman.
Pada masa itu, delegasi pemekaran Buol melakukan kunjungan penting ke Jakarta untuk bertemu Presiden Republik Indonesia saat itu, B.J. Habibie. Pertemuan tersebut menjadi bagian strategis dalam upaya memperjuangkan status otonomi daerah bagi Buol.
Dalam dokumentasi yang ada, sejumlah tokoh yang turut mendampingi almarhum Abdul Karim Mbow dalam kunjungan tersebut antara lain Hi. Ibrahim Timumun, Amran Hi. Rasyid, serta almarhum Dahlan Makatu dan Harun K. Siatan.
Sumber yang merupakan saksi sejarah menyebutkan bahwa tanpa peran Amran Hi. Rasyid dalam memfasilitasi perjalanan ke Jakarta, agenda penting tersebut kemungkinan besar tidak dapat terlaksana sesuai harapan.
“Tanpa keikutsertaan beliau, sulit membayangkan bagaimana perjuangan itu bisa berjalan lancar. Ini adalah bagian penting dari sejarah yang perlu diketahui,” ujar sumber tersebut.
Namun demikian, seiring berjalannya waktu, nama Amran Hi. Rasyid justru tenggelam dan nyaris tidak pernah muncul dalam narasi publik mengenai sejarah pemekaran Kabupaten Buol. Padahal, kontribusi yang diberikannya dinilai sangat signifikan.
Tokoh masyarakat, Sidik H. Salam, menegaskan pentingnya membuka kembali lembaran sejarah secara utuh agar generasi muda tidak kehilangan jejak perjuangan para pendahulu.
“Ini perlu diketahui oleh generasi kita. Sejarah pemekaran Kabupaten Buol harus disampaikan secara lengkap, termasuk peran tokoh-tokoh yang selama ini belum terangkat,” tegasnya.
Di tengah upaya mengangkat kembali peran tersebut, kondisi Amran Hi. Rasyid saat ini justru memprihatinkan. Ia diketahui tengah mengalami sakit keras dan sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Mokoyurli, Buol.
Rencananya, ia akan dirujuk ke Makassar untuk penanganan lebih lanjut, namun pihak keluarga masih mempertimbangkan aspek pembiayaan.
Amran Hi. Rasyid sendiri diketahui merupakan kakak ipar dari Ahmad Andimaka dan Mohammad Nur Korompot, namun keluarga disebut tidak pernah berupaya menonjolkan peran beliau ke publik.
Kisah Amran Hi. Rasyid menjadi pengingat bahwa di balik lahirnya sebuah daerah, terdapat banyak sosok yang berjuang dalam senyap.
Mengangkat kembali nama-nama tersebut bukan sekadar penghargaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sejarah agar generasi mendatang memahami bahwa kemajuan daerah lahir dari pengorbanan banyak pihak.
Redaksi









