Tolitoli –TABEnews.com,–Ramai diperbincangkan di media sosial, warga Desa Buntuna, Kecamatan Baolan, menolak rencana Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Tolitoli yang pada tahun anggaran 2025 mencetuskan proyek pengolahan sampah modern. Padahal, kawasan Buntuna dipilih bukan untuk menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, melainkan pusat daur ulang dan pengolahan sampah berteknologi ramah lingkungan.
Melalui proses pengolahan tertentu, sampah dapat dikonversi menjadi biogas bahkan energi listrik. Energi ini tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan sekitar lokasi, tetapi juga berpotensi disalurkan ke jaringan listrik kota. Dengan begitu, ketergantungan Tolitoli pada energi fosil dapat berkurang sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.
“Keberhasilan proyek ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat,” kata Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tolitoli, Didi Nasir.
Menurut Didi, Pemda yang kini menjalani periode kedua kepemimpinan berencana melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah modern. Namun, minimnya pemahaman sebagian warga membuat proyek tersebut disalahartikan. “Sebagian masyarakat membayangkan proyek TPA modern di Buntuna sama seperti TPA Kabinuang, padahal konsepnya berbeda. Di Buntuna, sampah akan diolah, bukan ditimbun,” jelasnya.
Ia menambahkan, program ini memberi banyak manfaat, mulai dari pengomposan, pemanfaatan energi, hingga peluang ekonomi baru. “Warga bisa merasakan langsung keuntungan mendaur ulang sampah. Proyek ini juga membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas hidup, serta menjadikan Tolitoli lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tegas Didi.
DLH menyebut, lokasi strategis yang ditunjuk sudah melalui kajian panjang oleh lembaga berkompeten. Karena itu, Pemda berharap masyarakat dapat mendukung proyek yang berpotensi menjadi model pembangunan berkelanjutan bagi daerah lain di Sulawesi Tengah tersebut.
Meski demikian, penolakan tetap muncul di tingkat desa. Kepala Desa Buntuna, Irwan, membenarkan bahwa sebagian warga keberatan karena lokasi proyek dinilai terlalu dekat dengan permukiman dan sumber air.
“Ya benar, Pak. Surat penolakan sudah kami kirim secara resmi ke Pemda,” ungkap Irwan saat dikonfirmasi, Rabu (3/9).
Kini, bola kembali berada di tangan Pemda Tolitoli: melanjutkan sosialisasi untuk memberi pemahaman kepada masyarakat, atau mencari solusi kompromi agar proyek pengolahan sampah modern yang dinilai visioner ini tidak kandas di tengah jalan.
Armen Djaru








