tolitoli

Mengenal Sosok Sang Maestro Politik, Dr. H. Moh. Ma’ruf Bantilan

63
×

Mengenal Sosok Sang Maestro Politik, Dr. H. Moh. Ma’ruf Bantilan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Tolitoli, TabeNews.com – Nama Moh. Ma’ruf Bantilan bukanlah sosok asing di panggung politik dan pemerintahan Sulawesi Tengah. Mantan Bupati Tolitoli dua periode ini dikenal sebagai figur yang memadukan kekuatan akademisi, birokrat, dan politisi dalam satu kepemimpinan yang berpengaruh.

Tak hanya sukses di dunia pemerintahan, Dr. Ma’ruf Bantilan juga mencatatkan kontribusi besar di sektor pendidikan dengan merintis dan membangun Universitas Madako Tolitoli, yang kini menjadi salah satu lembaga pendidikan tinggi penting di Kabupaten Tolitoli. Ia bahkan pernah menjabat sebagai rektor hingga kini menjadi Dewan Pembina kampus tersebut.

Advertising
banner 325x300
Advertising

Sebagai lulusan doktor Ilmu Pemerintahan dari Universitas Padjadjaran, Ma’ruf Bantilan dikenal memiliki landasan akademik yang kuat. Pemahaman teoritis yang mendalam tersebut berhasil ia implementasikan dalam praktik pemerintahan dengan mengedepankan prinsip good governance dan clean governance.

Kombinasi antara kecakapan akademik dan pengalaman birokrasi menjadikan gaya kepemimpinannya dikenal visioner sekaligus terukur.

Sebelum memasuki dunia politik praktis, Ma’ruf Bantilan meniti karier sebagai birokrat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Pengalaman panjangnya di dunia birokrasi kemudian mengantarkannya ke tingkat nasional sebagai anggota MPR RI.

Modal pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat saat ia dipercaya memimpin Kabupaten Tolitoli.

Ma’ruf Bantilan mencatat sejarah sebagai Bupati Tolitoli selama dua periode, yakni 1999–2004 dan 2005–2010. Di bawah kepemimpinannya, berbagai inovasi pembangunan daerah berhasil diwujudkan.

Salah satu gagasan strategisnya adalah konsep kerja sama perdagangan lintas wilayah seperti Totata (Tolitoli–Tawau–Tarakan) dan Tosamin (Tolitoli–Sandakan–Mindanao), yang saat itu menjadi terobosan dalam membuka konektivitas ekonomi regional.

Meski pernah mengikuti kontestasi Pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah sebagai calon Wakil Gubernur, pengaruh politiknya tetap kuat dan mengakar hingga saat ini.

Pasca menjabat sebagai kepala daerah, Ma’ruf Bantilan memilih jalur pengabdian di bidang pendidikan dan keagamaan. Selain aktif di dunia kampus, ia juga dikenal sebagai tokoh keagamaan yang berperan dalam organisasi seperti Dewan Masjid Indonesia Sulawesi Tengah.

Ia turut mendirikan pesantren serta yayasan sosial dan panti asuhan di Tolitoli, sebagai bentuk komitmen dalam membangun generasi muda dari sisi spiritual dan pendidikan.

Dalam lingkup keluarga, pengaruh politiknya juga terlihat. Putrinya, Nurmawati Dewi Bantilan, berhasil melenggang ke Senayan sebagai anggota DPD RI selama dua periode. Sementara putranya, Moh. Nurmansyah Bantilan, meniti karier politik sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, setelah sebelumnya menjabat di DPRD Kabupaten Tolitoli dan kini menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Tolitoli.

Belakangan, dinamika politik di Tolitoli kembali menghangat. Nama Moh. Nurmansyah Bantilan mulai ramai diperbincangkan sebagai salah satu figur potensial dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah mendatang.

Sejumlah pengamat menilai, aktivitas konsolidasi yang dilakukan—baik di internal partai maupun organisasi eksternal seperti kepemudaan dan keagamaan—menjadi sinyal kuat arah politik yang tengah dibangun.

Pergerakan tersebut juga kian menjadi bahan diskusi di ruang publik, mulai dari kalangan politisi, aktivis, hingga masyarakat umum di warung kopi.

Meski demikian, kepastian pencalonan masih menunggu perkembangan politik ke depan. Publik pun diminta untuk mencermati dinamika yang ada secara objektif dan konstruktif.

Dengan rekam jejak panjang sebagai birokrat, kepala daerah, akademisi, hingga tokoh keagamaan, Dr. Ma’ruf Bantilan tetap menjadi figur sentral dalam perjalanan pembangunan Tolitoli.

Apakah estafet kepemimpinan akan berlanjut ke generasi berikutnya? Waktu dan dinamika politik yang akan menjawabnya.
Redaksi : Faisal Yahya

Example 468x60
Example 120x600