Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
buol

Makam Dai Borie: Jejak Sejarah, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal di Tanjung Dako Buol

109
×

Makam Dai Borie: Jejak Sejarah, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal di Tanjung Dako Buol

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Buol, TabeNews.com – Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, menyimpan salah satu situs yang kaya akan nilai sejarah dan spiritualitas, yakni Makam Dai Borie, yang juga dikenal masyarakat dengan sebutan Doi Bore. Situs ini terletak di kawasan Tanjung Dako, Desa Mendaan, Kecamatan Karamat, dan hingga kini tetap dihormati sebagai tempat keramat sekaligus warisan budaya lokal.

Makam Dai Borie berada di dalam sebuah gua kecil yang memiliki mulut selebar sekitar 5,5 meter dengan panjang kurang lebih 6,6 meter. Atmosfer di dalam gua terasa hening dan sakral. Makam ditutup dengan kain kuning, warna yang secara kultural dimaknai sebagai simbol kehormatan, kemuliaan, dan kesucian.

Advertising
banner 325x300
Advertising

Secara geografis, lokasi makam berjarak hampir 40 kilometer dari pusat Kota Buol. Dari Desa Mendaan, perjalanan menuju Tanjung Dako dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 20 menit. Meski akses menuju lokasi memerlukan perjalanan darat yang tidak singkat, hal itu tidak menyurutkan minat peziarah maupun wisatawan lokal yang ingin menyaksikan langsung situs bersejarah tersebut.

Dalam tuturan sejarah lisan masyarakat Buol, Dai Borie disebut sebagai salah satu Pangera Buol, anak dari Madika (raja) Ndubu, penguasa Kerajaan Buol. Kisahnya lekat dengan konflik keluarga yang membuatnya meninggalkan tanah kelahiran bersama saudaranya, Anggatibone, untuk melakukan pelayaran.

Tragedi terjadi dalam perjalanan pulang ke Buol. Dai Borie dikisahkan tewas saat menghadapi perompak yang berasal dari Mindanao. Peristiwa kematiannya dikelilingi cerita mistis yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Disebutkan, saat ia gugur, alam mendadak gelap, badai datang, dan gelombang besar menghancurkan perahu-perahu perompak.

Menurut cerita rakyat setempat, panglima perompak dari Mindanao meyakini Dai Borie sebagai sosok keramat. Atas dasar penghormatan, jasadnya kemudian dimakamkan di Tanjung Dako, lokasi yang kini menjadi situs ziarah dan refleksi sejarah.

Salah satu keunikan Makam Dai Borie terletak pada bentuk penandanya. Makam ini tidak memiliki jerat atau batu penutup kubur sebagaimana lazimnya makam pada umumnya. Sebagai gantinya, terdapat sebuah nisan berbentuk gada khas Aceh dengan ukuran tinggi sekitar 70 sentimeter dan lebar 15 sentimeter yang diletakkan di bagian tengah makam.

Bentuk nisan tersebut kerap memunculkan interpretasi historis. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan kemungkinan adanya hubungan dakwah atau perjalanan ulama dari wilayah Aceh ke pesisir Sulawesi pada masa lampau. Meski demikian, kisah pasti mengenai asal-usul simbol tersebut masih menjadi bagian dari kajian sejarah dan budaya.

Keistimewaan lain yang sering diceritakan adalah kondisi alam di sekitar makam. Walau berada di antara dua tanjung dan dekat dengan laut, air laut disebut tidak pernah masuk ke area makam, bahkan saat pasang. Fenomena ini semakin menguatkan keyakinan masyarakat akan nilai keramat situs tersebut.

Bagi masyarakat Desa Mendaan dan sekitarnya, Makam Dai Borie bukan sekadar lokasi pemakaman. Situs ini memiliki fungsi sosial-budaya sebagai bagian dari warisan sastra daerah dan cerita rakyat Buol. Nilai spiritual yang melekat di dalamnya diyakini mengandung ajaran moral serta pesan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Penelitian dan pendokumentasian terhadap situs ini dinilai penting untuk menjaga pengetahuan sejarah lokal agar tidak punah. Selain itu, keberadaan makam juga menjadi pengingat akan pentingnya merawat identitas budaya daerah.

Pemerintah daerah diharapkan terus memberikan perhatian terhadap pelestarian kawasan Tanjung Dako sebagai bagian dari aset wisata religi dan sejarah Kabupaten Buol, dengan tetap memperhatikan aspek konservasi lingkungan serta kesakralan tempat.

Dengan segala keunikan lokasi dan kisah yang menyertainya, Makam Dai Borie tetap berdiri sebagai saksi perjalanan waktu—menyatukan sejarah, budaya, dan spiritualitas dalam satu ruang yang tenang di pesisir Buol.

Redaksi

Example 468x60
Example 468x60
Example 120x600