RSUD Buol

Keluarga Pasien Keluhkan Dokter Spesialis Jarang Periksa Langsung, Perawat Jadi Sasaran Kemarahan di RSUD

57
×

Keluarga Pasien Keluhkan Dokter Spesialis Jarang Periksa Langsung, Perawat Jadi Sasaran Kemarahan di RSUD

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Buol TabeNews.com – Keluhan terhadap pelayanan kesehatan kembali mencuat di lingkungan rumah sakit daerah. Kali ini, sorotan tajam datang dari keluarga pasien di sejumlah ruang perawatan yang mengaku kecewa karena dokter spesialis dinilai jarang melakukan pemeriksaan langsung kepada pasien dan lebih banyak memberikan instruksi melalui sambungan WhatsApp kepada perawat jaga.

Kondisi ini memicu pertanyaan serius di tengah masyarakat mengenai kualitas pelayanan medis yang seharusnya menjadi hak dasar pasien, terutama mereka yang sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Advertising
banner 325x300
Advertising

Sejumlah keluarga pasien mengaku sering mempertanyakan keberadaan dokter spesialis saat kondisi pasien memburuk atau membutuhkan penjelasan medis. Namun jawaban yang diterima hampir selalu sama: “masih menunggu konsulan dokter spesialis lewat WA.”

Ironisnya, ketika dokter disebut sudah berada di rumah atau di luar rumah sakit, yang harus menghadapi keluhan, emosi, bahkan kemarahan keluarga pasien justru para perawat jaga.

“Yang kami lihat hanya perawat yang bolak-balik. Dokter spesialisnya hampir tidak pernah datang periksa langsung. Semua katanya lewat WhatsApp,” ungkap salah satu keluarga pasien dengan nada kecewa. Kepada media Senin (11/5/26).

Fenomena tersebut dinilai semakin memperlihatkan buruknya sistem pelayanan dan lemahnya pengawasan terhadap disiplin dokter spesialis di rumah sakit. 

Publik mempertanyakan apakah penanganan pasien cukup dilakukan hanya lewat laporan pesan singkat tanpa pemeriksaan langsung oleh dokter yang memiliki tanggung jawab utama terhadap kondisi pasien.

Keluhan serupa juga terjadi di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Penumpukan pasien disebut kerap terjadi karena petugas harus menunggu jawaban konsulan dari dokter spesialis sebelum tindakan lanjutan dilakukan.

“Kalau kami tanya kenapa pasien belum ditangani atau kenapa lama, petugas bilang masih menunggu jawaban konsulan dokter spesialis. Jadi pasien menumpuk di IGD sambil menunggu keputusan,” ujar salah satu keluarga pasien.

Situasi tersebut membuat keluarga pasien semakin cemas karena pasien yang datang dalam kondisi darurat justru harus menunggu kepastian penanganan. 

Di sisi lain, perawat dan petugas jaga kembali menjadi pihak yang paling sering menerima tekanan dan kemarahan dari keluarga pasien.

Keluarga pasien yang panik dan menunggu kepastian akhirnya melampiaskan kekesalan kepada perawat maupun petugas jaga karena mereka dianggap pihak yang paling mudah ditemui di lapangan.

Padahal dalam kenyataannya, banyak keputusan medis justru berada di tangan dokter spesialis.

Kondisi ini membuat beban kerja perawat dinilai jauh lebih besar dibanding yang terlihat. Perawat bukan hanya menjalankan tugas pelayanan dasar, tetapi sering kali harus mengambil alih pekerjaan yang semestinya menjadi tanggung jawab dokter, mulai dari menjelaskan kondisi pasien kepada keluarga, menghadapi tekanan emosional di ruangan, hingga memastikan pelayanan tetap berjalan saat dokter belum hadir.

“Perawat yang dimarahi, perawat yang disalahkan, perawat juga yang paling sibuk di ruangan. Tapi soal pendapatan, perbedaannya seperti langit dan bumi,” ujar salah satu keluarga pasien.

Muncul pula pertanyaan kritis dari masyarakat: bagaimana jika suatu saat para perawat juga melakukan aksi mogok pelayanan seperti yang sebelumnya dilakukan sebagian dokter spesialis? 

Apakah pelayanan rumah sakit masih bisa berjalan normal jika dokter spesialis harus bekerja sendiri tanpa dukungan penuh perawat?

Pernyataan itu menjadi tamparan keras bagi manajemen rumah sakit dan pemerintah daerah untuk mulai melihat ketimpangan beban kerja dan kesejahteraan tenaga kesehatan secara lebih adil.

Publik menilai, selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada tuntutan insentif dokter spesialis, sementara perawat yang menjadi ujung tombak pelayanan langsung kepada pasien justru kurang mendapat perhatian yang seimbang.

Masyarakat kini mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap pola pelayanan dokter spesialis di rumah sakit, termasuk disiplin visite pasien, sistem konsulan, hingga pembagian tanggung jawab medis yang dinilai semakin membebani perawat.

Sebab rumah sakit bukan hanya membutuhkan dokter hebat di atas kertas, tetapi juga tenaga medis yang hadir, responsif, dan benar-benar melayani pasien secara manusiawi. 

Ketika dokter terlalu jauh dari pasien, maka yang runtuh bukan hanya kualitas pelayanan, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit itu sendiri.

Redaksi

Example 468x60
Example 120x600