RSUD BuolUncategorized

Pelayanan Dijadikan Tekanan? Publik Soroti Moral Dokter Spesialis RSUD Mokoyurli

13
×

Pelayanan Dijadikan Tekanan? Publik Soroti Moral Dokter Spesialis RSUD Mokoyurli

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Buol TabeNews.com – Aktivitas pelayanan di poli rawat jalan UPT RSUD Mokoyurli Buol kini kembali berjalan normal setelah sebelumnya sempat terganggu akibat aksi mogok pelayanan sebagian dokter spesialis yang menuntut kenaikan insentif. Senin (11/5/26).

Kondisi ini memunculkan dugaan kuat di tengah masyarakat bahwa tuntutan para dokter telah disetujui oleh pihak pemerintah daerah maupun manajemen rumah sakit.

Advertising
banner 325x300
Advertising

Namun, normalnya pelayanan belum serta-merta menghapus kekecewaan publik. Gelombang kritik justru semakin keras bermunculan terhadap kualitas disiplin pelayanan dokter spesialis di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.

Masyarakat menilai, tuntutan kenaikan insentif seharusnya dibarengi dengan peningkatan profesionalisme dan tanggung jawab pelayanan kepada pasien. Sebab selama ini, banyak pasien mengaku harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian saat berobat di poli rawat jalan.

Pasien datang sejak pagi, mengambil nomor antrean lebih awal, menahan rasa sakit, meninggalkan pekerjaan, bahkan ada yang datang dari wilayah jauh dengan biaya sendiri. Namun yang mereka hadapi justru ruang tunggu penuh ketidakjelasan, keterlambatan pelayanan, hingga alasan klasik berupa “jadwal operasi molor” atau dokter sedang berada di luar daerah.

“Kalau insentif minta dinaikkan, pelayanan juga harus ditingkatkan. Jangan pasien terus yang jadi korban,” keluh salah satu keluarga pasien.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: apakah pelayanan kesehatan masih berorientasi pada kemanusiaan, atau sudah bergeser menjadi sekadar urusan transaksi dan tekanan kepentingan internal?

Publik tidak menampik bahwa profesi dokter adalah profesi mulia yang layak mendapatkan penghargaan finansial yang baik. Namun kemuliaan profesi itu juga menuntut tanggung jawab moral yang besar, terutama soal disiplin waktu, kepastian pelayanan, dan penghormatan terhadap pasien.

“Tidak adil jika hak dokter terus disuarakan, sementara kewajiban dasar terhadap pasien sering diabaikan. Pasien bukan objek tawar-menawar,” ujar salah seorang warga Buol.

Kritik masyarakat semakin tajam karena alasan keterlambatan pelayanan kerap dikaitkan dengan jadwal operasi, padahal dalam satu rumah sakit terdapat lebih dari satu dokter spesialis dengan bidang kompetensi yang sama. 

Jika sistem manajemen berjalan baik, pelayanan seharusnya tetap dapat dibagi sehingga pasien tidak dibiarkan menumpuk tanpa kepastian.

Yang terjadi justru dinilai memperlihatkan lemahnya sistem pengawasan dan rendahnya komitmen terhadap pelayanan publik.

Ironisnya, di tengah isu kenaikan insentif yang disebut telah disetujui, publik kembali mempertanyakan keberadaan salah satu dokter spesialis yang dikabarkan sedang berada di luar kota sehingga banyak pasien kembali dirujuk ke rumah sakit lain.

Kondisi ini memicu kemarahan masyarakat karena pelayanan kembali terganggu meski kesejahteraan dokter telah diperjuangkan dan diduga dipenuhi.

Warga pun meminta manajemen rumah sakit dan pemerintah daerah segera melakukan evaluasi tegas terhadap dokter spesialis yang dianggap tidak disiplin dan mengabaikan pelayanan masyarakat.

“Kalau memang benar pergi tanpa izin dan membuat pasien harus dirujuk lagi, itu harus dievaluasi serius. Jangan masyarakat terus dirugikan,” tegas warga.

Masyarakat berharap momentum normalnya kembali pelayanan di RSUD Mokoyurli tidak hanya menjadi tanda selesainya polemik insentif, tetapi juga menjadi awal pembenahan besar terhadap budaya disiplin, etika pelayanan, dan tanggung jawab moral tenaga medis di rumah sakit daerah tersebut.

Sebab pada akhirnya, rumah sakit bukan hanya tempat mencari penghasilan, tetapi tempat masyarakat menggantungkan harapan hidup dan keselamatan mereka.

Redaksi

Example 468x60
Example 120x600