Buol, TabeNews.com – Polemik hasil seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Buol menjadi sorotan publik setelah protes keras dari pihak SMAN 2 Biau viral di media sosial Facebook. Sekolah tersebut menilai tim seleksi kabupaten tidak tegas, tidak konsisten, dan lalai dalam menjalankan tugas sehingga merugikan peserta didik mereka.
Dalam pernyataan yang beredar luas di media sosial, pihak SMAN 2 Biau menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap keputusan tim seleksi yang dinilai berubah-ubah.
Mereka menyoroti salah satu siswa yang sebelumnya diyakini lolos ke tingkat provinsi, namun secara tiba-tiba dinyatakan gagal dengan alasan tidak memenuhi kriteria.
Menurut pihak sekolah, apabila memang ada standar atau kriteria khusus dari tingkat provinsi, maka seharusnya hal itu sudah diterapkan sejak proses seleksi di tingkat kabupaten. Bukan justru memberikan harapan kepada peserta, lalu menggugurkannya di tahap akhir.
“Seharusnya sejak seleksi kabupaten, peserta sudah disaring berdasarkan kriteria provinsi. Jangan memberikan harapan palsu seperti saat ini,” demikian bunyi pernyataan protes tersebut.
SMAN 2 Biau menegaskan bahwa keputusan ini bukan hanya mengecewakan pihak sekolah, tetapi juga berdampak langsung pada mental dan semangat siswa yang telah berjuang keras mengikuti seluruh tahapan seleksi.
“Kami benar-benar kecewa. Ini bukan hanya mencoreng nama baik sekolah, tetapi juga menjatuhkan semangat peserta didik kami yang sudah berusaha maksimal,” tulis pihak sekolah.
Gelombang protes juga datang dari para alumni SMAN 2 Biau yang ikut menyuarakan dukungan terhadap langkah sekolah. Mereka menilai proses seleksi harus dilakukan secara objektif, transparan, dan profesional.
Arsad Hamzah bersama Taufik Intam menyatakan sebagai alumni mereka mendukung penuh proses protes yang dilakukan sekolah demi menuntut kejelasan dan keadilan.
“Sebagai alumni, kami mendukung proses ini. Harus ada evaluasi terhadap penyelenggaraan seleksi,” ujar keduanya. Pada Jum’at (1/5/26). Melalui komentar.
Sementara itu, alumni lainnya, Erpin Samad, menilai protes yang dilakukan SMAN 2 Biau merupakan langkah tepat demi memperjuangkan hak siswa.
“Sebagai alumni, saya mendukung protes yang dilakukan Smandu Biau ini. Semoga keadilan berpihak pada siswa SMANDU dan ke depan tidak terjadi lagi hal seperti ini,” tegas Erpin.
Nada kekecewaan juga disampaikan Hasyim, yang mengaku pernah memimpin sekolah tersebut. Ia sangat menyayangkan kejadian itu dan menilai SMAN 2 Biau kerap diperlakukan tidak adil.
“Selaku orang yang pernah memimpin Smandu, saya sangat menyayangkan kejadian ini. Memang dari dulu selalu dizalimi, ada apa?” ungkapnya.
Kasus ini kini menjadi perbincangan hangat masyarakat Buol di media sosial. Banyak warganet meminta agar panitia dan tim seleksi Paskibraka Kabupaten Buol memberikan penjelasan terbuka terkait dasar penilaian dan perubahan keputusan tersebut.
Masyarakat juga mendesak pemerintah daerah untuk mengevaluasi kinerja tim seleksi agar ke depan proses rekrutmen Paskibraka benar-benar menjunjung prinsip keadilan, profesionalisme, dan transparansi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari panitia seleksi Paskibraka Kabupaten Buol terkait protes yang dilayangkan pihak SMAN 2 Biau dan para alumni.
Redaksi









