TABEnews.com, Tolitoli – Hari kedua setelah perayaan Idul Adha 1446 Hijriyah di Desa Anggasan, Kecamatan Dondo, berubah menjadi momen penuh haru dan kehangatan. Warga berkumpul dalam kegiatan silaturahmi atau yang akrab mereka sebut Siara Kekeluargaan—tradisi turun-temurun yang mempererat kembali hubungan antarkelompok dan individu setelah perayaan besar umat Islam tersebut.
Kepala Desa Anggasan, Ruslan M. Hadi, turut ambil bagian dalam kegiatan yang sudah menjadi budaya tahunan ini. Mengenakan busana sederhana dan penuh senyum, ia mengunjungi rumah-rumah warga, menyalami anak-anak hingga lansia, dan berbincang hangat tentang kehidupan sehari-hari serta rencana ke depan untuk desa mereka tercinta.
“Siara ini bukan sekadar jalan-jalan atau kunjungan biasa. Ini cara kami menyambung hati yang sempat berjauhan karena kesibukan dan mungkin juga perbedaan. Kami saling maaf-memaafkan, dan itu luar biasa dampaknya untuk kehidupan sosial di desa ini,” ujar Ruslan dengan mata berkaca-kaca.
Warga pun menyambut hangat kegiatan ini. Suasana penuh kekeluargaan terasa di setiap sudut desa. Meja-meja di teras rumah dipenuhi kue tradisional, kopi panas, dan cerita-cerita masa lalu yang menggugah nostalgia. Anak-anak tertawa riang, sementara para orang tua tampak larut dalam percakapan penuh makna.
Ruslan berharap, tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi bisa berkembang menjadi kekuatan sosial yang menginspirasi desa-desa lain. “Kalau setiap tahun kita bisa melakukan ini dengan hati yang tulus, saya percaya Anggasan akan menjadi desa yang damai, maju, dan saling mendukung satu sama lain. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa rayakan lagi, bahkan lebih meriah,” katanya dengan penuh harap.
Tradisi Siara Kekeluargaan di Desa Anggasan memang unik. Tidak hanya sekadar formalitas saling berkunjung, tetapi menjadi ruang untuk memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang, serta memperkuat semangat gotong royong antarwarga. Dalam suasana pasca-Idul Adha yang penuh berkah, kegiatan ini menjadi oase persaudaraan yang langka di tengah dunia yang makin individualistik.
Seorang warga, Ibu Maryam (54), mengaku sangat terharu karena bisa kembali bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak bertegur sapa. “Tahun ini saya berani datang lagi ke rumahnya, setelah bertahun-tahun tidak bicara. Ternyata dengan saling memaafkan, hati jadi tenang sekali,” ungkapnya.
Dari Desa Anggasan, semangat silaturahmi di Hari Tasyrik ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa momen Idul Adha bukan hanya soal berkurban, tetapi juga soal menyambung jiwa, menyembuhkan luka, dan memperkuat persaudaraan antarumat.
laporan:fajrin










