Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
buol

Siaga! Diduga Likuefaksi Ancam 150 Hektar Kebun Warga di Mangubi, Tanah Bergerak 1 Km

100
×

Siaga! Diduga Likuefaksi Ancam 150 Hektar Kebun Warga di Mangubi, Tanah Bergerak 1 Km

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Buol, TabeNews.com – Hasil investigasi di lapangan menemukan adanya fenomena alam yang diduga likuifaksi atau tanah bergerak di wilayah Desa Mangubi, Kecamatan Momunu, Kabupaten Buol, pada Senin (23/3/2026). 

Kejadian tersebut menggemparkan masyarakat karena pergerakan tanah terjadi di area jalan pertanian dan kebun warga yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat.

Advertising
banner 325x300
Advertising

Fenomena ini terpantau di beberapa titik di wilayah perkebunan dan jalan kantong produksi desa. Sebagian besar lahan pertanian warga dilaporkan terancam rusak akibat tanah yang terus bergerak, sehingga menimbulkan retakan besar dan pergeseran tanah yang cukup dalam. 

Luas areal perkebunan warga yang terancam diperkirakan mencapai hampir 150 hektar, sementara panjang area tanah yang mengalami pergerakan diperkirakan mencapai sekitar 1 kilometer.

Berdasarkan hasil investigasi di lokasi, jalan kantong produksi Desa Mangubi yang selama ini digunakan oleh petani untuk mengangkut hasil pertanian kini terancam putus. Pergerakan tanah masih terus terjadi dan menyebabkan badan jalan retak serta bergeser, sehingga kendaraan sulit melintas.

Di beberapa titik terlihat kondisi cukup parah, di mana tanah terbelah dan turun hingga kedalaman sekitar 3 sampai 6 meter. Bahkan terdapat pohon-pohon besar seperti kelapa dan durian yang ikut roboh akibat pergeseran tanah. Selain itu, kebun jagung milik warga juga terancam rusak karena tanah terus bergerak dari waktu ke waktu.

Warga di lokasi menyebutkan bahwa pergerakan tanah terjadi sangat cepat, bahkan dapat terlihat perubahan dalam hitungan menit. Dalam satu lokasi, pohon dilaporkan bergeser dari posisi awal hingga sekitar 7 meter, menunjukkan kuatnya tekanan pergeseran tanah di area tersebut.

Lokasi pergeseran tanah juga dilaporkan cukup dekat dengan permukiman warga, yakni sekitar 500 meter dari rumah penduduk, sehingga masyarakat merasa khawatir apabila pergerakan tanah terus meluas, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

Selain merusak lahan pertanian, peristiwa ini juga mengancam sumber air bersih masyarakat. Pipa jaringan air dari induk mata air dilaporkan sering putus akibat pergeseran tanah, sehingga pasokan air ke rumah-rumah warga terganggu.

Berdasarkan keterangan sumber di lapangan, fenomena serupa sebenarnya pernah terjadi pada tahun 1970-an hingga 1980-an, bahkan tercatat sekitar 14 kali pergerakan tanah, namun tidak separah yang terjadi saat ini. Pergerakan tanah juga sempat terjadi pada periode 1990 hingga 2012, tetapi dampaknya tidak sebesar kejadian tahun 2026, di mana saat ini banyak kebun warga terbelah dan tanah terus bergeser setiap jam bahkan setiap menit.

Kepala Desa Mangubi, Satriano, saat memberikan keterangan di lokasi mengatakan bahwa kondisi yang terjadi saat ini sangat mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi.

“Tanah bergerak yang terjadi di Desa Mangubi saat ini sangat parah. Akses jalan menuju perkebunan warga rusak berat, dan sumber air minum masyarakat juga terancam karena pipa sering putus akibat pergeseran tanah. Kami sangat berharap ada tindak lanjut dari dinas terkait,” ujar Satriano.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah desa bersama masyarakat saat ini telah membagi warga menjadi dua tim untuk melakukan penanganan darurat secara gotong royong.

Tim pertama difokuskan untuk memperbaiki jalan yang rusak agar masih bisa dilalui kendaraan pengangkut hasil pertanian, sementara tim kedua melakukan perbaikan jaringan pipa air bersih agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

“Saat ini masyarakat sangat membutuhkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak, mandi, dan minum. Kami berharap pemerintah segera turun tangan membantu penanganan di lapangan,” tambahnya.

Pemerintah desa berharap dinas terkait, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, segera melakukan peninjauan dan penelitian lebih lanjut terhadap fenomena yang diduga likuefaksi tersebut, guna mencegah dampak yang lebih besar terhadap permukiman, lahan pertanian, dan keselamatan masyarakat.

Redaksi

Example 468x60
Example 468x60
Example 120x600