Buol, TabeNews.com – Pemerintah Desa Mangubi, Kecamatan Momunu, Kabupaten Buol, menetapkan kondisi siaga satu menyusul terjadinya fenomena diduga likuefaksi yang terjadi di dekat permukiman warga dan jalan kantong produksi akibat hujan yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir.
Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 19 Maret 2026, atau sehari sebelum pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah. Warga melaporkan munculnya semburan lumpur di depan rumah penduduk, serta terjadinya pergeseran tanah yang semakin meluas di area sekitar permukiman dan lahan produksi masyarakat.
Berdasarkan laporan pemerintah desa, area yang terdampak diperkirakan mencapai puluhan hektare, bahkan berpotensi meluas hingga sekitar 100 hektare jika kondisi cuaca kembali diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Selain mengancam permukiman, peristiwa ini juga menyebabkan sejumlah sumber air bersih terputus, akibat pergeseran tanah dan material longsor yang menimbun saluran air milik warga.
Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Desa Mangubi, Satriano, mengatakan pihaknya sangat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk segera turun langsung melihat kondisi di lapangan.
“Kami sangat berharap tim BNPB datang melihat langsung fenomena yang terjadi di desa kami. Ini diduga likuefaksi, karena tanah terus bergerak dan muncul lumpur. Kalau hujan sekali lagi, bisa saja rumah warga tertutup,” ujar Satriano. Saat di hubungi media
Ia menjelaskan, dirinya bersama aparat desa telah turun langsung meninjau lokasi kejadian pada Sabtu, 20 Maret 2026, untuk memastikan kondisi terbaru di lapangan. Pemerintah desa bersama masyarakat juga berencana kembali melakukan peninjauan guna melihat perkembangan tanah yang diduga mengalami likuefaksi.
Menurutnya, lokasi yang terdampak berada di jalur yang sangat vital bagi aktivitas masyarakat. Jalan kantong produksi tersebut merupakan satu-satunya akses utama bagi masyarakat petani yang di antaranya Desa Mangubi dan Tongon serta akses menuju desa Pajeko, Potugu, pinamula dan pinamula baru.
Jika kerusakan semakin parah, maka aktivitas warga dan distribusi hasil pertanian dipastikan akan terganggu.
Pemerintah desa saat ini mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama apabila hujan kembali turun, karena dikhawatirkan pergeseran tanah semakin meluas dan membahayakan keselamatan warga.
Pihak desa berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pemerintah pusat dapat segera melakukan peninjauan, penelitian, dan penanganan darurat, guna mencegah dampak yang lebih besar terhadap masyarakat.
Redaksi










