buol

Kisah Piluh WNA Asal Filipina Terdampar di Perairan Indonesia, Berakhir Selamat di Kabupaten Buol

674
×

Kisah Piluh WNA Asal Filipina Terdampar di Perairan Indonesia, Berakhir Selamat di Kabupaten Buol

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Buol TabeNews.com – Sebuah kisah perjuangan hidup yang mengharukan dialami oleh belasan Warga Negara Asing (WNA) asal Filipina yang terombang-ambing di laut selama hampir dua pekan, sebelum akhirnya ditemukan dan diselamatkan di perairan Indonesia, tepatnya di wilayah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.

Peristiwa ini dialami oleh satu keluarga besar yang dipimpin oleh Pak Bandir, berjumlah 17 orang, terdiri dari 9 orang dewasa dan 8 anak-anak serta balita, termasuk seorang bayi berusia 6 bulan.

Advertising
banner 325x300
Advertising

Dalam wawancara dengan Pak Bandir, ia menjelaskan bahwa perjalanan laut tersebut bermula dari Sempurna, Sabah, Malaysia, dengan tujuan menuju Filipina (Tawi-Tawi) untuk menghadiri hajatan keluarga. Mereka berangkat sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat, dengan estimasi perjalanan laut hanya sekitar 8 jam.

Namun, pada hari kedua pelayaran, perahu yang mereka tumpangi dihantam gelombang tinggi dan cuaca buruk di sekitar perairan Pulau Tawi-Tawi. 

Perahu mulai oleng dan kemasukan air, memaksa seluruh penumpang membuang semua barang bawaan ke laut, termasuk mesin perahu, demi mengurangi beban agar tidak tenggelam.

Dalam kondisi darurat tersebut, salah satu anak Pak Bandir, seorang laki-laki berusia 27 tahun, nekat melompat ke laut dengan berpegangan pada sebuah jerigen. 

Aksi ini kemudian diikuti oleh suami dari Ibu Lisa, yang juga melompat dan berpegangan pada jerigen yang sama untuk menyelamatkan diri menuju daratan, yang masih berada di wilayah Malaysia.

Pak Bandir mengaku sempat merasa kecewa atas keputusan tersebut karena sang suami meninggalkan istri dan keempat anaknya dalam kondisi kritis. Meski demikian, Pak Bandir memilih untuk tetap bertahan bersama keluarga yang tersisa, apapun risikonya.

Dengan hanya bermodalkan penutup ember yang dijadikan dayung, Pak Bandir bersama 15 anggota keluarga lainnya pasrah mengikuti arah angin dan arus laut.

Selama 13 hari terombang-ambing di tengah laut, mereka bertahan hidup dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Hanya dua kali mereka berhasil menampung air hujan untuk minum. Bekal berupa biskuit yang sangat terbatas harus dibagi secara merata satu biskuit dibelah dua untuk setiap orang.

Memasuki hari kedelapan, stok makanan benar-benar habis. Sisa air hujan semakin menipis, sementara perahu terus kemasukan air sehingga harus terus dikeluarkan secara manual (limas). Anak-anak, termasuk balita berusia enam bulan, menangis tanpa henti akibat kehausan dan kelaparan. Selama lima hari, mereka tidak makan dan minum.

Dalam kondisi nyaris putus asa, Pak Bandir dan keluarganya hanya bisa berserah diri dan berdoa kepada Allah SWT.

Doa tersebut akhirnya terjawab. Pada hari ke-13 di laut, mereka melihat sebuah kapal melintas. Dengan sisa tenaga yang ada, Pak Bandir berteriak sekuat tenaga dan melambaikan tangan meminta pertolongan.

“Waktu melihat kapal itu, rasa lapar saya seperti langsung hilang,” ungkap Pak Bandir.

Kapal tersebut diketahui milik nelayan asal Buol, Muhammad Rusman (Cici). Dalam keterangannya, Cici menjelaskan bahwa saat itu ia bersama rekan-rekannya sedang berkeliling mencari ikan di rakit-rakit.

“Saya curiga itu bukan perahu Indonesia. Saya pernah lama tinggal di Malaysia, jadi tahu cirinya. Saat saya dekati, saya lihat banyak orang di dalam perahu sudah sangat lemas,” ujarnya.

Pak Bandir kemudian berteriak memohon pertolongan, meminta diselamatkan dan dibawa ke mana saja asalkan mereka bisa hidup. Tanpa ragu, Cici langsung menaikkan seluruh korban ke kapalnya dan menyediakan makanan serta minuman.

Korban ditemukan sekitar pukul 08.00 WITA, dengan posisi sekitar 72 mil laut dari Dermaga Tambatan Perahu Poyapi. Perahu korban kemudian diikat dan ditarik menuju daratan. Mereka tiba di Dermaga Poyapi sekitar pukul 18.30 WITA.

Setibanya di darat, kabar penemuan korban dengan cepat menyebar. Seluruh unsur terkait langsung menuju lokasi. Para korban sementara diamankan di rumah Saprudin, Tombea Lautan Tuna, di mana warga sekitar secara sukarela memberikan pakaian, makanan, dan kebutuhan lainnya.

Dapur-dapur warga pun langsung sibuk memasak untuk para korban, menunjukkan tingginya rasa empati masyarakat Kabupaten Buol.

Petugas gabungan segera melakukan asesmen awal, sebelum seluruh korban dievakuasi ke RSUD Mokoyurli Kabupaten Buol untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Peristiwa kemanusiaan ini melibatkan dan mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, di antaranya:

Pemerintah Daerah Kabupaten Buol, Dinas Sosial, BNPB, TNI, Polri, Satpolairud, DLH, SatPolPP, serta masyarakat Kelurahan Buol.

Apresiasi seluruh elemen yang telah menunjukkan kepedulian dan kerja sama dalam menyelamatkan nyawa sesama manusia.


Redaksi: Firliana Pawena

Example 468x60
Example 120x600