Buol, TabeNews.com – Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Buol untuk mempererat silaturahmi bersama masyarakat melalui kegiatan open house di kediaman Bupati Buol pada hari kedua Lebaran, Minggu (22/3/2026).
Dalam acara yang dihadiri para camat, kepala desa, sekretaris desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga dari Kecamatan Biau, Kecamatan Paleleh, Kecamatan Paleleh Barat dan Bukal tersebut, Bupati Buol H. Risharyudi Triwibowo, MM menyampaikan sambutan sekaligus klarifikasi terkait sejumlah isu yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya mengenai pembayaran THR, efisiensi anggaran, serta pengadaan kendaraan dinas dan lampu penerangan jalan.
Dalam sambutannya, Bupati terlebih dahulu menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada seluruh masyarakat.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kabupaten Buol, saya mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Dalam perjalanan satu tahun ini tentu ada salah dan khilaf, baik dari pribadi maupun dari kebijakan pemerintah yang mungkin dirasakan masyarakat,” ujar Bupati.
Bupati menjelaskan bahwa keterlambatan pembayaran THR bukan hanya terjadi di Kabupaten Buol, tetapi juga dialami banyak daerah karena kondisi keuangan yang sedang mengalami efisiensi anggaran.
Menurutnya, pada tahun 2025 Kabupaten Buol mengalami efisiensi anggaran sebesar Rp86 miliar, dan pada tahun 2026 kembali mengalami tambahan efisiensi sekitar Rp120 miliar.
“Kalau anggaran dipotong lebih dari Rp100 miliar, tentu ada kewajiban yang tidak bisa diselesaikan bersamaan. THR sesuai aturan boleh dibayarkan menjelang atau setelah hari raya jika kondisi keuangan tidak memungkinkan. Kami sudah rapat dengan tim anggaran dan berkomitmen menyelesaikan setelah lebaran,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pada tahun 2025 tidak ada masalah pembayaran gaji, TPP, maupun THR, sehingga kondisi saat ini murni karena tekanan anggaran.
Menanggapi isu bahwa THR tidak dibayarkan karena pemerintah membeli mobil, Bupati menegaskan bahwa kendaraan operasional yang digunakan saat ini bukan dibeli, melainkan disewa melalui pihak ketiga.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut diambil setelah dilakukan pemeriksaan aset kendaraan milik pemerintah daerah yang sebagian besar sudah tidak layak pakai.
“Saat kita kumpulkan semua kendaraan dinas, hanya beberapa yang layak digunakan. Biaya perawatan setiap tahun mencapai miliaran rupiah. Karena itu kita ambil skema sewa selama tiga tahun, bukan beli. Bahkan biaya perawatan menjadi nol selama masa sewa dan penggunaan bahan bakar lebih hemat karena menggunakan kendaraan hybrid,” terangnya.
Bupati juga menegaskan bahwa pembayaran sewa kendaraan dilakukan pada triwulan ketiga, sehingga tidak berkaitan dengan pembayaran THR.
Program lampu jalan dan penghematan listrik
Selain kendaraan dinas, Bupati juga menjelaskan program pemasangan lampu penerangan jalan yang sempat dikaitkan dengan pemborosan anggaran.
Ia menyebutkan bahwa sebelumnya terdapat sekitar 700 lampu dengan teknologi lama yang menghabiskan biaya listrik lebih dari Rp3 miliar per tahun. Melalui program penggantian lampu LED, jumlah lampu akan bertambah menjadi sekitar 2.500 unit, namun biaya listrik justru turun menjadi sekitar Rp1,2 miliar per tahun.
“Lampu ini dibayar dengan skema bertahap selama beberapa tahun, bukan dibayar sekaligus. Tujuannya supaya daerah terang, aman, dan biaya listrik justru lebih hemat,” kata Bupati.
Menanggapi pertanyaan masyarakat terkait efisiensi anggaran namun tetap menggelar open house, Bupati menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk silaturahmi yang tidak membutuhkan biaya besar, sekaligus cara pemerintah bertemu masyarakat tanpa harus berkeliling ke seluruh desa saat hari raya.
“Di Buol ada lebih dari 108 desa. Kalau kami harus datang satu per satu saat lebaran, bisa sampai 20 hari. Karena itu kita kumpul di sini, nanti setelah lebaran kita akan keliling saat halal bihalal di kecamatan atau desa,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi di media sosial tanpa klarifikasi.
Ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan tabayyun, berdiskusi, dan menyelesaikan persoalan secara baik.
“Kalau ada masalah, datang dan klarifikasi. Jangan langsung berasumsi di media sosial. Kritik boleh, itu bagian dari masukan, tapi sampaikan dengan cara yang baik dan berdasarkan fakta,” pesannya.
Menutup sambutannya, Bupati kembali mengajak seluruh masyarakat untuk saling memaafkan di momen Idul Fitri.
“Mari kita sudahi perselisihan, saling memaafkan, dan bersama-sama membangun Kabupaten Buol menjadi daerah yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Semoga Allah memberikan kesehatan, umur panjang, dan keberkahan bagi kita semua,” tutupnya.
Redaksi










