buol

Skandal Video Kafe Guncang Buol, Oknum Kades Klarifikasi dan Ultimatum Jalur Hukum

263
×

Skandal Video Kafe Guncang Buol, Oknum Kades Klarifikasi dan Ultimatum Jalur Hukum

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Buol TabeNews.com — Sebuah video yang beredar luas di media sosial menyeret nama seorang oknum Kepala Desa (Kades) berinisial SL di Kabupaten Buol. Merasa privasinya dilanggar, SL menyatakan akan menempuh jalur hukum terhadap pihak pengelola sebuah kafe yang diduga merekam dan menyebarkan video tersebut tanpa izin.

Kepada media ini, SL menyampaikan klarifikasi resmi sekaligus permohonan maaf terbuka kepada masyarakat, khususnya para kepala desa di Kabupaten Buol. 

Advertising
banner 325x300
Advertising

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menjual nama maupun jabatan sebagai kepala desa untuk kepentingan apa pun, sebagaimana narasi yang berkembang dalam video viral tersebut.

“Saya meminta maaf kepada seluruh kepala desa dan masyarakat Kabupaten Buol. Saya tidak pernah menjual nama atau jabatan saya sebagai kades untuk kepentingan tertentu, apalagi seperti yang ditafsirkan dalam video itu,” ujar SL, Selasa (13/1/2026).

Saat di hubungi media Tabenews.com melalui WhatsApp pribadi.

SL menjelaskan, peristiwa tersebut bermula saat seorang oknum mantan Kepala Desa Negeri Lama (Nelam) berinisial IM mendatangi rumahnya di Desa Pajeko. IM mengajak SL untuk sekadar bersantai dan bernyanyi di sebuah kafe yang berada di wilayah Leok, Kabupaten Buol.

Namun saat itu, SL mengaku tengah berada dalam kondisi tekanan finansial dan psikologis. Ia menyebut sedang menghadapi persoalan keluarga, termasuk konflik rumah tangga serta masalah anaknya yang mengalami dugaan pemukulan di Palu.

“Saya sudah menyampaikan bahwa sedang dalam kondisi kesulitan dana. Tapi secara spontan saya ikut ajakan tersebut,” ungkapnya.

Setibanya di kafe, SL mengaku sempat ragu dan berniat pulang karena keterbatasan biaya. Namun, ia dicegah oleh rombongan dan diminta tetap masuk.

“Saya sempat menolak dan pamit pulang, tapi dilarang. Soal ladies, saya tidak tahu-menahu. Saya ke sana hanya untuk menyanyi,” tegasnya.

SL juga menyebut di dalam ruangan tersebut telah ada beberapa orang lain yang berasal dari sejumlah desa, di antaranya Desa Lamadong dan Mangubi. Ia mengaku terkejut ketika mengetahui seluruh pesanan di ruangan itu dibebankan atas namanya.

“Mungkin karena saya seorang kades, mereka mengira saya punya banyak uang. Saat itu saya membayar sekitar Rp600 ribu kepada IM. Handphone saya juga sempat dibawa oleh IM,” jelasnya.

Persoalan Tagihan dan Tuduhan Ladies

Beberapa hari setelah kejadian, pihak kafe kembali mendatangi SL untuk menagih pembayaran tambahan. SL merasa dirugikan, karena menurutnya sejumlah biaya yang ditagihkan bukan berasal dari aktivitas yang ia lakukan.

“Saya merasa dikuras. Disebutkan ada ladies yang menemani saya dan dibayar, padahal saya tidak pernah ditemani ladies sama sekali. Semua itu dibebankan kepada saya,” tuturnya.

SL menegaskan bahwa uang sebesar Rp600 ribu telah ia serahkan kepada IM, mantan Kades Nelam, di hadapan beberapa saksi.

“Uang itu saya hitung satu per satu di atas meja dan disaksikan oleh teman-teman. Saya serahkan kepada IM karena dialah yang mengajak ke kafe. Bisa jadi uang itu tidak diserahkan ke pemilik kafe. Namun ketika biaya itu hendak dibebankan kembali kepada saya, tentu saya keberatan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa urusan terkait ‘ladies’ bukan tanggung jawabnya, karena ia tidak pernah memesan maupun menggunakan jasa tersebut.

SL tidak menampik bahwa dirinya sempat meneguk sedikit minuman yang tersedia di lokasi, namun menegaskan sebagian besar waktunya hanya dihabiskan untuk bernyanyi.

Di akhir pernyataannya, SL menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat, keluarga, camat, dan seluruh kepala desa di Kabupaten Buol. 

Ia juga menyatakan siap menerima konsekuensi atas peristiwa tersebut, termasuk jika harus mengundurkan diri dari jabatannya.

“Apa yang saya lakukan itu tidak benar. Saya minta maaf kepada masyarakat, keluarga, para kepala desa, dan camat. Jika karena kejadian ini saya harus mundur dari jabatan, saya siap. Tidak ada manusia yang sempurna,” ujarnya.

SL juga menegaskan akan menempuh langkah hukum apabila pihak yang merekam dan menyebarkan video tersebut tidak memberikan klarifikasi terbuka di media sosial.

“Jika mereka yang merekam dan menyebarkan video tidak membuat pernyataan klarifikasi tentang kebenaran kejadian, maka proses hukum tetap akan berjalan,” tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola kafe belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan perekaman dan penyebaran video tanpa izin. Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait guna menjaga prinsip keberimbangan dan akurasi informasi.

Redaksi

Example 468x60
Example 120x600