Buol TabeNews.com – Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini terus hidup dan menginspirasi hingga hari ini. Di Kabupaten Buol, sosok sederhana bernama Ci Fong menjadi cerminan nyata nilai-nilai Kartini di era modern.
Di usia senjanya, Ci Fong memilih mengisi hari-harinya dengan kegiatan mulia: mengajar bahasa Mandarin kepada anak-anak di sekitar Gedung Angkasa Leok 1 Buol. Tanpa memungut biaya sepeser pun, ia dengan sabar dan penuh ketulusan membagikan ilmu kepada siapa saja yang ingin belajar.
Bagi Ci Fong, mengajar bukan sekadar aktivitas, melainkan bentuk pengabdian. Ia mengaku bersyukur atas umur panjang yang masih diberikan oleh Tuhan, dan ingin memanfaatkannya untuk hal yang bermanfaat bagi generasi muda.
“Tuhan sudah memberikan saya bonus umur. Di usia seperti ini, saya hanya ingin berbagi ilmu kepada anak-anak yang mau belajar bahasa Mandarin,” ungkap Ci Fong dengan penuh kerendahan hati. Kepada media Selasa (21/4/26).
Kehadiran Ci Fong menjadi oase bagi anak-anak di sekitar wilayah tersebut. Di tengah keterbatasan akses pendidikan tambahan, terutama bahasa asing, inisiatifnya menjadi sangat berarti.
Selain menambah wawasan, kegiatan ini juga membangun kedekatan emosional antara generasi tua dan muda.
Semangat yang ditunjukkan Ci Fong selaras dengan perjuangan Kartini yang memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan dan masyarakat pada masanya.
Jika dahulu Kartini membuka jalan melalui pemikiran dan tulisan, kini Ci Fong melanjutkan semangat itu melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
Peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk meneladani nilai perjuangan, kepedulian, dan ketulusan dalam berbagi.
Sosok Ci Fong membuktikan bahwa menjadi “Kartini masa kini” tidak harus melalui panggung besar, cukup dengan ketulusan dan kepedulian terhadap sesama.
Di Kabupaten Buol, dari sebuah sudut sederhana di sekitar Gedung Angkasa Leok 1, cahaya kecil itu terus menyala—mewujudkan makna “Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam kehidupan nyata.
Selamat Hari Kartini.
Redaksi : Martinus Palembangan









