TABEnews.com — Salah satu media online membuat tulisan saja,yang figurkan salah calehlah dari salah satu parpol yang jikia menilik berita tersebut ,sejujurnya saat menulis bio atau profil seseorang terkadang wartawan
melebih-lebihkan. Entah itu sesuatu yang publik sukai, atau hal-hal yang sangat di benci oleh publik “Papar Rahmadi salah satu kontributor Media online di Tolitoli saat berbincang siang tadi sabtu (16/9/2023)
Lebih jauh dikatakan Mading Saat ceritakan Tokoh dalam sebuah tulisan di mana tokoh itu dikagumi, penulis banyak memakai bahasa hiperbolis yang menonjolkan setiap kelebihannya. Kecenderungan ini akhirnya membuat penulis terjebak pada glorifikasi atau pengkultusan pribadi.
Kultus individu atau pemujaan kepribadian muncul ketika seseorang menggunakan media massa, propaganda, atau metode lain untuk menciptakan figur ideal apalagi tahun ini kita menghadapi tahun pesta demokrasi Tahun 2024, pada akhirnya banyak caleg murahan bahkan di duga ijazah bermasalah mendapat pujian, sementara publik tahu jika caleg tidak memenuhi syarat menjadi legislator, wartawan tidak boleh menutupi ke tidak sempurnaan itu
Glorifikasi dari media sebagai media publik tentu saja harus dihindari, mari kita jadikan media terkhusus media online sebagai sarana pendidikan politik, “tutup Rahmadi
Armen djaru














