Buol, TabeNews.com — Polemik terkait distribusi gas Elpiji 3 kg kembali mencuat di Kabupaten Buol. Masyarakat di Kelurahan Kali mengeluhkan keberadaan sebuah pangkalan Elpiji yang diduga menjual gas melon di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) serta tidak melayani warga sekitar.
Situasi ini memunculkan dugaan bahwa pemerintah daerah dan pihak kelurahan setempat terkesan tutup mata terhadap praktik tersebut.
Menurut informasi yang dihimpun, pangkalan yang dimaksud diduga memindahkan aktivitasnya dari wilayah Kelurahan Buol ke Kelurahan Kali untuk mengelabui petugas saat operasi pengawasan distribusi Elpiji.
Meski demikian, pangkalan tersebut disebut tetap memasok gas ke luar wilayah, sehingga masyarakat setempat kesulitan mendapatkan gas subsidi.
Seorang warga yang enggan menyebutkan namanya mengaku sangat kesulitan memperoleh Elpiji 3 kg pada saat kebutuhan meningkat.
“Kami sangat kesulitan dapat gas Elpiji 3 kg. Banyak kali datang, katanya sudah habis, padahal baru beberapa menit diturunkan dari mobil truk. Harga juga dijual di atas HET, bahkan 50 sampai 60 ribu per tabung. Gasnya dibawa ke Kelurahan Buol, bukan untuk warga sini,” ujarnya.
Keluhan ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang pengawasan pemerintah daerah dan pihak kelurahan setempat. Masyarakat mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menertibkan distribusi Elpiji subsidi, terutama bagi warga yang berhak.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Buol, khususnya Sekretaris Daerah (Sekda), dapat segera menertibkan pangkalan yang diduga melakukan praktik tidak sesuai aturan tersebut.
Mereka menilai perlunya langkah tegas dan pengawasan lebih ketat agar distribusi Elpiji 3 kg benar-benar tepat sasaran dan tidak menimbulkan keresahan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi. Redaksi akan terus memantau perkembangan dan menyampaikan informasi terbaru apabila ada tanggapan dari pemerintah atau instansi terkait.
Redaksi









