“Hari ini juga Bapak butuh uang delapan juta!”
“Enjih, Pak. Sudah saya sampaikan sama Mas Wisnu, tapi belum ada balasan, mungkin sedang tidak ada jaringan di proyek,” jawabku, pada Bapak.
“Aturan dari mana?! Ambil uang di rekening sendiri pakek nunggu persetujuan dari Suami? Itu kan uangmu juga! Pasti Wisnu mengizinkan, Bapak ini kan orang tuamu!” bentak Bapak, tak mau memahami bahwa anak perempuannya ini sudah menjadi seorang istri yang apa-apa harus meminta persetujuan dari suami.
Apa harus aku jelaskan pada Bapak? Bahwa semua uang yang aku simpan tak lain adalah uang dari hasil kerja keras Mas Wisnu. Seharusnya Bapak bisa memahami.
“Sebenarnya uangnya ada apa tidak, Nur? Ibu dan Bapak sangat butuh, kalau siang ini kami tidak mengembalikan uang sejumlah delapan juta pada Kang Ruslan, Adikmu Sekar yang jadi jaminan,” sambung ibu, ikut menjelaskan apa sebab kedua orang tua ini datang ke tempat tinggalku yang berada di Kota.
“Nur sudah menjelaskan pada Bapak dan Ibu, tunggu, tunggu jawaban dari Mas Wisnu, Pak, Bu,” jawabku, sambil menuangkan teh ke dalam cangkir yang baru kusediakan di hadapan Bapak dan ibu.
“Monggo diminum dulu tehnya, Pak, Bu. Nur akan siapkan makanan buat Bapak dan Ibu,” lanjutku.
Baru saja aku akan berdiri, hanya dengan kedipan mata dua cangkir di atas meja sudah berada di lantai. Suaranya sangat khas, Bapak berhasil membuat dua benda yang terbuat dari keramik itu hancur menjadi beberapa bagian.
“Astagfirullah, Pak. Kenapa dibuang cangkirnya?” tanyaku, yang seketika kembali berlutut untuk memunguti pecahan gelas yang berserakan di bawah meja.
“Bapak kesini tidak butuh makanan darimu! Bapak cuma butuh meminjam uang, kamu tahu? Keberhasilan Suamimu itu karena restu dari kami, orang tuamu! Jangan memaksa Bapak untuk berbuat kasar.” Bapak beranjak dari kursi, kemudian diikuti dengan ibu.
Terlihat Bapak mendekat ke arahku, kemudian meraih kedua pundakku, membuat aku berdiri dengan paksa.
“Lepaskan kalungmu.”
Tangan Bapak sudah bersiap meraih benda berwarna kuning di leherku.
“Pak … Endak seperti ini caranya, Nurma akan pinjamkan uangnya, Bapak sabar dulu,” cegahku, sambil berusaha menutup leherku dengan menggunakan kedua tangan.
“Kamu mau jadi Anak durhaka, iya? Turuti ucapan Bapakmu! Berikan perhiasanmu, hidup Adikmu dalam masalah besar.” Ibu ikut menimpali.
Saat ini keduanya sudah berdiri di hadapanku, dengan cepat Bapak meraih tanganku, sejurus kemudian benda yang melingkar di leherku sudah berada di tangan ibu.
“Sudah, Pak, kita tinggalkan tempat ini, kita harus segera menjual perhiasan ini, kita selamatkan Sekar,” ucap ibu.
“Anggap saja ini uang jatah yang kamu berikan setia bualannya pada kami, jadi selama delapan bulan ke depan kami tidak akan berharap uang darimu,” Imbuh ibu, sebelum keduanya meninggalkan rumahku.
‘Astagfirullah … Bapak, Ibu, dua orang yang selama ini menjadi panutanku, tega sekali, aku bahkan sudah tak mengenal mereka lagi.
**
Delapan bulan berlalu, aku tak mendengar lagi kabar dari Bapak dan Ibu, sepertinya mereka menepati ucapannya untuk tidak meminta jatah padaku. Dulu, setelah Mas Wisnu menikahiku, ia selalu menyisihkan jatah untuk orang tuanya dan orang tuaku.
Getaran benda pipih yang berada di saku bajuku membuyarkan lamunan. Terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari kontak bernama ‘Ibu.
[Kamu di mana, Nur? Hampir satu jam Ibu dan Bapak berdiri di depan rumahmu]
Enggan sekali rasanya menjawab atau memberitahu pada keduanya.
“Sudah matang sosisnya, Mbak Nur, awas gosong.” Suara Muna bocah berusia delapan tahun yang selama delapan bulan ini menjadi pelanggan tetapku.
[Pulang saja, Bu. Nur sudah tidak tinggal di rumah itu lagi] Balasan pesan yang kukirimkan pada ibu.
DI KBMAP SUDAH TAMAT DENGAN JUDUL
BAPAK DAN IBU TAK TAHU AKU HIDUP DI JALAN – myra_rani
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link dibawah:









