TABE — Hari ini, komunitas pedagang pasar Susumbolan, Tolitoli Sulawesi Tengah kembali mendatangi Gedung DPRD, mengadukan sejumlah masalah yang mereka dan hadapi.
Tercatat ada lima poin keluhan puluhan pedagang yang diterima anggota DPRD di ruang sidang, Selasa (6/3) yang merupakan masalah berulang disuarakan setiap ada aksi.
Tiga anggota DPRD (Jemy Yusuf, Jumsar dan Moh Mubarak) yang menerima puluhan pedagang itu sepakat dengan OPD terkait akan mencari solusi masalah yang dipersoalkan.
Saat komunitas ke gedung wakil rakyat itu, mereka menyuarakan agar dilakukan penertiban bagi yang berjualan di atas trotoar atau bahu jalan depan pasar Susumbolan.
Mereka minta agar oknum yang melegal hal itu ditindak dan mempertanyakan masuk kemana pungutan yang dilakukan di atas tersebut.
Masalahnya kata Ungke, salah seorang pedagang bahwa jika tidak ditertiba yang di atas trotoar maka calon pembeli tidak masuk lagi ke pasar.
Kami yang jualannya di dalam pasar, sepi pembeli. Mau pake apa anak disekolahkan di kasih makan apa, ujar Ungke terlihat kesal.
Dengan nada lantang dia berkata, jika itu ditertibkan maka kami pun yang akan bertindak.
Ironi memang, pedagang yang menyuarakan penertiban. Dimana sebetulnya peran UPT pasar, apakah ini main mata ataukah ini ketidakberdayaan dalam membangun sebuah pasar yang baik dan bersih.
Dalam pantauan Media, sejumlah lost pasar bagian dalam tampak tidak menjadi tempat berjualan. Ada lost yang hanya jadi tempat penampungan gardus bekas atau barang lainnya.

Lagi-lagi ini disuarakan pedagang soal penertiban! Apakah penertiban itu hanya karena melubernya pedagang di halaman sampai trotoar atau fungsi lost nyanyi tidak lagi jadi tempat berjualan ditertibkan?
Anggota komisi A Moh Mubarak SH menyatakan kalau hal ini sering dan sering berulang.
Ditengarai ada pembiaran, juga perlu ada solusi dan penertiban dan kesadaran pedagang menjadi salah kunci dari segala persoalan yang selama ini berulang, kata Efri dari dinas perdagangan yang memiliki otoritas menangani pasar. ***















