BUOL – Melestarikan budaya daerah tidak selalu dimulai dari panggung besar. Di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, upaya menjaga warisan budaya tumbuh dari ruang kelas dan ketekunan seorang guru Seni Budaya. Ia mendatangi rumah siswa, menyeberangi sungai dengan perahu, dan menjahit sendiri kostum tari agar anak-anak didiknya mengenal Tari Pogogul.
Dialah Yulianti SH Antu, guru Seni Budaya SMPN 2 Biau yang sudah sekitar tujuh tahun mengabdi dalam pembelajaran seni. Upayanya ia rangkum dalam program bertajuk “Melati Pogogul”, yakni melestarikan budaya dan Tari Pogogul melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam.
Bagi Yulianti, Tari Pogogul lebih dari sekadar rangkaian gerak. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat Buol yang menjunjung kebersamaan dan gotong royong dalam mengolah tanah, mulai dari menanam, merawat, hingga memanen. Tari ini juga menjadi wujud kecintaan terhadap tanah kelahiran, Bumi Pogogul.
Keprihatinannya bermula dari kenyataan di kelas. Banyak siswa dengan cepat menirukan tarian populer dari TikTok, seperti dance Brazil dan goyang helikopter. Namun ketika ditanya tentang Tari Pogogul, masih banyak yang belum mengenalnya dengan baik, bahkan ada yang sama sekali tidak tahu.
Pemetaan sederhana yang ia lakukan memperkuat kegelisahan itu. Dari 178 siswa kelas VIII, 25 siswa memiliki minat rendah terhadap seni tari, 114 siswa berminat sedang, dan 39 siswa berminat tinggi. Menurut Yulianti, data itu menunjukkan setiap anak punya kesiapan berbeda. Ada yang perlu diajak berani mencoba, ada yang butuh lebih banyak latihan, dan ada yang siap dikembangkan lebih jauh.
Tantangannya tidak ringan. Waktu pelajaran Seni Budaya terbatas, sementara seni membutuhkan proses, pemahaman, dan latihan berulang. Sebagian siswa malu dan takut salah saat bergerak di depan teman. Kondisi geografis menambah kesulitan. Sejumlah siswa tinggal di wilayah pegunungan, bahkan ada yang di seberang sungai dan hanya bisa dijangkau dengan perahu, apalagi saat hujan deras.
Yulianti sendiri tinggal di Dusun Arab, sekitar 10 kilometer dari sekolah, dan menempuh perjalanan itu setiap hari. Dalam kondisi tertentu ia harus membawa bayinya. Di luar jam sekolah, ia mengajar les vokal untuk menambah penghasilan, dan sebagian hasilnya ia gunakan untuk kebutuhan pembelajaran Seni Budaya.
“Ada saatnya saya merasa lelah, harus membagi waktu antara sekolah, keluarga, dan pendampingan siswa. Namun saya memilih untuk tidak menjadikan keadaan itu sebagai alasan untuk berhenti,” tuturnya.
Ia memulai pembelajaran dengan mengenalkan cerita dan makna di balik Tari Pogogul, bukan hanya gerakannya. Suasana latihan dibuat nyaman agar siswa tidak takut salah. Siswa yang masih malu diajak berlatih bersama teman, sedangkan yang menunjukkan minat dan kemampuan lebih tinggi didampingi secara intensif.
Karena waktu di kelas terbatas, Yulianti melanjutkan pendampingan di luar jam sekolah dengan mendatangi rumah-rumah siswa. Untuk menjangkau siswa di seberang sungai, ia menyeberang menggunakan perahu. Tak jarang ia pulang sore atau malam, waktu yang semestinya ia habiskan bersama keluarga dan bayinya yang masih menyusu.
Keterbatasan sarana pun tak ia jadikan alasan. Ia menciptakan media belajar sederhana bernama TaSagu, tas yang terbuat dari batang sagu, berisi perlengkapan seperti selendang dan kenop pola lantai. Tas itu ia bawa ke sekolah maupun saat mendatangi rumah siswa.
Untuk kostum, Yulianti bahkan pergi ke Gorontalo karena kain yang dibutuhkan sulit ditemukan di Buol. Kain itu dibeli dengan penghasilan dari les vokal, lalu ia jahit sendiri menjadi pakaian tari untuk para siswa. “Saya ingin ketika siswa mengenakannya, mereka merasa bangga membawa budaya daerahnya ke atas panggung,” ujarnya.
Pendekatan itu perlahan membuahkan hasil. Dari 178 siswa kelas VIII, 153 siswa atau 86 persen kini mampu melakukan gerakan dasar Tari Pogogul. Sisanya, 25 siswa atau 14 persen, masih memerlukan pendampingan lebih lanjut. Siswa juga tampak lebih berani mencoba dan lebih antusias mengikuti latihan.
Dari proses panjang itu, enam siswa dengan kemampuan sangat baik dipilih untuk mewakili sekolah dalam lomba Tari Pogogul. Tiga di antaranya tinggal di seberang sungai, namun kondisi tersebut tak menghalangi mereka terus belajar dan berlatih. Saat keenamnya tampil di panggung dengan kostum buatan sang guru, Yulianti merasa melihat hasil dari perjalanan panjang.
Baginya, capaian itu bukan semata soal lomba. Yang lebih penting, siswa belajar disiplin, bekerja sama, menerima masukan, berlatih berulang kali, dan berani menunjukkan budaya daerahnya di hadapan orang lain.
Dedikasi itu juga menular. Seorang rekan guru seni yang berfokus pada seni musik berencana melakukan hal serupa untuk musik tradisional Buol. Keduanya berencana berkolaborasi membangun sanggar seni yang berfokus pada budaya tradisional. Dukungan orang tua turut menguat. Ada yang siap membiayai dan meminta Yulianti membuka sanggar seni agar anak-anak punya tempat untuk terus belajar, dan permintaan itu kini menjadi motivasi baginya untuk mewujudkannya.
Dari pengalaman ini, Yulianti memaknai Pembelajaran Mendalam sebagai proses mengalami, bukan sekadar mengetahui. Pembelajaran menjadi berkesadaran ketika siswa memahami bahwa Tari Pogogul adalah bagian dari identitas mereka. Menjadi bermakna ketika mereka mengerti kaitan gerakan itu dengan gotong royong, kerja keras, dan cinta tanah kelahiran. Dan menjadi menggembirakan ketika mereka menikmati latihan serta bangga menampilkan tari daerahnya.
“Saya tidak hanya membawa Tas Seni. Saya juga membawa harapan agar Tari Pogogul tetap hidup di tangan generasi muda Buol,” kata Yulianti.
“Melestarikan budaya bukan hanya menjaga sebuah tarian agar tidak hilang. Melestarikan budaya adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal, memahami, mencintai, dan merasa memiliki budaya mereka sendiri.”
Bagi Yulianti, perjalanan ini belum selesai. Dari ruang kelas, rumah-rumah siswa, hingga panggung pertunjukan, dedikasinya terus berjalan demi memastikan identitas daerah tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.









