buol

100 Uunugon Bahasa Buol Siap Cetak, Masyarakat Minta Pemda Serius Dukung Pelestarian Budaya Lokal

15
×

100 Uunugon Bahasa Buol Siap Cetak, Masyarakat Minta Pemda Serius Dukung Pelestarian Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Buol, Tabenews.com – Upaya pelestarian budaya dan tradisi daerah kembali mendapat perhatian. Seorang pemerhati budaya Buol, Marlon Intam, mengungkapkan bahwa dirinya telah menyusun sebuah buku berjudul “100 Uunugon dalam Bahasa Daerah Buol” yang kini telah rampung dan siap untuk dicetak.

Buku tersebut merupakan Edisi I yang memuat 100 syair pantun/Uunugon khas Buol. Marlon menyampaikan, penyusunan karya tersebut menjadi langkah awal dalam mendokumentasikan tradisi lisan masyarakat Buol agar tetap terjaga dan dikenal generasi masa kini maupun mendatang.

Advertising
banner 325x300
Advertising

Ia menambahkan, setelah penerbitan edisi pertama, penyusunan Edisi II juga telah direncanakan dengan target minimal 200 pantun/Uunugon. Bahkan, saat ini telah tersusun lebih dari 100 pantun tambahan yang siap dikembangkan dalam penerbitan berikutnya.

Buku tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah nyata dalam menjaga warisan leluhur Suku Buol, khususnya tradisi Uunugon, yakni pantun khas daerah yang sarat makna, nasihat, nilai kesopanan, serta pesan kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Marlon Intam berharap Pemerintah Kabupaten Buol dapat memberikan dukungan penuh terhadap penerbitan buku tersebut, baik dalam bentuk fasilitasi dan perhatian, maupun promosi kepada masyarakat luas agar karya budaya itu dapat segera diterbitkan dan dimanfaatkan oleh generasi muda.

“Uunugon bukan sekadar pantun biasa, tetapi bagian dari identitas masyarakat Buol. Di dalamnya terkandung pesan moral, nilai adat, kebijaksanaan orang tua dahulu, serta cara masyarakat berkomunikasi dengan santun dan berbudaya,” ujar Marlon Intam kepada media saat diwawancarai di kediamannya di Kelurahan Leok I. Minggu (3/5/26)

Ia menilai, di tengah perkembangan zaman dan derasnya pengaruh budaya luar, tradisi lisan seperti Uunugon mulai jarang digunakan, terutama di kalangan generasi muda. 

Karena itu, dokumentasi dalam bentuk buku dinilai sangat penting agar warisan budaya tersebut tidak hilang ditelan waktu.

Selain penerbitan buku, Marlon juga mendorong pemerintah daerah agar lebih serius menjalankan program pelestarian budaya lokal melalui langkah-langkah strategis. 

Di antaranya memasukkan muatan budaya Buol ke dalam pendidikan sekolah, menggelar lomba pantun Uunugon, festival seni tradisional, pelatihan bahasa daerah, hingga digitalisasi naskah dan karya budaya Buol.

Menurutnya, pelestarian budaya bukan hanya tugas budayawan semata, tetapi tanggung jawab bersama antara pemerintah, tokoh adat, lembaga pendidikan, dan seluruh masyarakat. 

Jika dikelola dengan baik, budaya lokal juga dapat menjadi daya tarik wisata daerah sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Buol.

“Jangan sampai anak cucu kita hanya mendengar nama Uunugon tanpa pernah mengetahui bentuk dan maknanya. Kita harus bergerak sekarang untuk menjaga budaya leluhur,” tambahnya.

Masyarakat pun berharap Pemerintah Kabupaten Buol memberi perhatian serius terhadap penerbitan buku 100 Uunugon dalam Bahasa Daerah Buol sebagai bentuk komitmen nyata dalam menjaga kearifan lokal dan tradisi Suku Buol agar tetap hidup, berkembang, dan dikenal lintas generasi.

Redaksi

Example 468x60
Example 120x600